Senin, 08 September 2014

Cinta Transformasional

 Anak-anak kecil senantiasa takjub dengan segala hal yang dijumpainya. Memperhatikan kepompong ulat bulu yang sebentar  lagi menjadi kupu-kupu, misalnya. Anak-anak selalu berada dalam kondisi sabar, santai, polos dan tidak teropoh. Anak-anak selalu menikmati momen kebahagian, larut, tenggelam dan menyatu dengan alam yang memesona.

Pikiran dan badan orang dewasa tidak menyatu di satu tempat. Orang dewasa cenderung sibuk, kemrusung, tergopoh dan tidak sabaran. Pikiran dewasa disesaki rencana-rencana besar dan penting. Mereka lupa memperhatikan perkara yang tampak remeh, tapi sesungguhnya menakjubkan. Semisal, membelai dan mencium rambut anak meski berbau apek. Perkara sederhana, tapi mendalam.

Manusia dewasa human doing bukan human being. Cinta manusia dewasa cenderung egoistik, transaksional dan bersimbah nafsu-bukan cinta transformasional. Cinta transformasional, menurut Arvan Pradiansyah, merupakan kasih tak bersyarat yang diberikan cuma-cuma. Cinta yang membuat manusia ikhlas melepaskan orang-orang yang dicintai dari bayang-bayang yang mencintai. Cinta yang membuat orang-orang terkasih menjadi diri mereka sendiri.

Orang yang dicintai bisa jadi tidak mendatangkan keuntungan, mengecewakan dan tidak memberi harapan. Kendati demikian, kita tidak berhenti mengasihi mereka. Cinta sejati yang tidak berdasarkan kalkulasi untung rugi. Cinta berdasarkan ketiadaan hasrat. Cinta yang tidak menguasai dan mengendalikan, bukan cinta kekanak-kanakan. Cinta transformasi bukan cinta yang mementingkan diri sendiri, merasa ingin terus dibutuhkan ingin selalu dihormati, dan senantiasa ingin diharapkan.

Dikutip dari "Guru Gokil Murid Unyu" karya J. Sumardianta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar