Jumat, 23 Mei 2014

Bertemu


Malam sepertinya masih enggan berlalu.
Seorang pria bertopi sedang berlari menerobos titik-titik hujan.
Seorang wanita sedang berteduh di bawah pohon sambil memegang payung.
Pria itu membawa seikat bunga tulip berwarna merah.
Langkahnya berirama,
Semakin cepat,
Dan ketika sampai...
Wanita itu memekarkan payungnya.
Beranjak dari tempatnya berteduh.
Mereka bertemu, saling berhadapan dengan jarak yang tidak begitu dekat.
Kamu tahukan, mereka yang lama tak bertemu akan menjadi kaku.
*1 menit*
*2 menit*
*3 menit*
*4 menit*
*5 menit*
*10 menit*
*20 menit*
*30 menit*
Tak ada sepatah katapun yang terucap.
Hanya suara rintik hujan yang terdengar.

“Dari jauh aku melihat senyummu yang indah, seperti tulip merah yang ku bawakan untukmu, namun entah mengapa aku takut menyerahkannya”

“Dari jauh aku melihat senyummu yang indah, yang tersamarkan oleh butiran air hujan yang jatuh dari celah topimu, namun entah mengapa aku takut berbagi payung denganmu”

Bertemu saja sudah cukup, karena kebahagiaan sedang memayungi mereka.


(Makassar '02:35', 22 Mei 2014) -Ina Novita-

Senin, 19 Mei 2014

CeritaJika #49 : Jika Istrimu Seorang Anak Bungsu

Anak terakhir atau familiar disebut bungsu. Dengan status tersebut dikeluarga, memang akan kau temui sosok manja karena kaya limpahan kasih sayang. Kehadirannya akan selalu dirindukan. Sosok anak kecil yang tak pernah dewasa, padahal selalu mati-matian berusaha mematahkan asumsi tersebut.

Karena menjadi bungsu, maka kau akan berhadapan dengan orangtua yang sangat selektif dan sulit melepas anak perempuannya. Hingga (mungkin) kau akan membiasakan diri hidup lebih dekat dengan mertuamu.

Karena menjadi bungsu, membuatnya tak terbiasa susah. Maka kau akan menyaksikan bahwa dia selalu ingin berada di zona ternyaman. Memastikan kelak masih tidur di kasur yang nyaman, makan enak, berpakaian bagus, fasilitas yang memadai.

Karena bungsu memang terkadang sangat menggantungkan segala sesuatu kepada orang yang nyaman baginya, bersiaplah kau memberikan waktumu untuknya. Memberikan tangan dan kakimu untuk membantunya bahkan sekedar untuk mencari sesuatu yang ia lupa menyimpannya.

Tapi percayalah, sebagai bungsu yang kemudian akan menyandang status istri, dia akan menjadi sebenar-benarnya seorang ibu dan istri. Ibu yang baik yang mengajari, mendidik, dan melimpahkan kasih sayang seperti yang diterimanya, kepada anak-anaknya, yaitu anak-anakmu.
Sosok yang loveable dan ceria adalah penghangat di tengah keluarga, penebar tawa. Dia pendengar yang baik dan komunikatif, kau akan nyaman mengobrol banyak hal sebelum waktu tidur tiba.

Percayalah, seorang perempuan bungsu akan menjatuhkan pilihan ke orang yang membuatnya nyaman dan tenang. Sama seperti jika dia berada di tengah keluarganya. Maka dia akan memiliki kesetiaan yang luar biasa.

Karena bungsu, memiliki wawasan luas dan terdepan, karena dia punya guru tambahan dan berkaca dari pengalaman kakak-kakaknya. Dia bahkan berusaha tidak menuntut melebihi dari apa yang suaminya mampu berikan.

Karena bungsu yang kau akan  temui, dia yang mencintai kebebasan, tidak suka didominasi. Tapi tenanglah, selama kau menghargai dan memberi kepercayaan, dia akan sangat menjaga kepercayaan itu dan tidak lari dari tanggungjawab dan kewajibannya.

Asal kau mampu menjadi imam yang baik dan penyayang keluarga, dia akan menghormatimu sebagai cinta yang akan menuntun dia dan keluarganya sampai ke surga.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
pengirim :
Pendidikan Biologi STKIP Persada Khatulistiwa
Sintang, Kalimantan Barat

Ini adalah proyek menulis ceritaJika, yang dibuat oleh Kurniawan Gunadi yang lebih dikenal dengan masgun. untuk lebih jelasnya silahkan klik di sini

Tulisan ini sayang untuk dilewatkan. Sebab, saya juga anak bungsu. sekian. hehehe :p :))

Minggu, 18 Mei 2014

Tentang Rindu


Hari ini hujan lagi. Miranda memandang air hujan yang jatuh membasahi tanah. Walau matanya terlihat fokus melihat titik-titik hujan itu, namun sebenarnya pikirannya melayang, memikirkan sesuatu. Miranda menarik napas panjang dan mengalihkan pandangannya. Lalu, terluncur dari bibirnya “Aku harus menemuinya”. Ia membalikkan badan, mengambil sebuah tas kecil dan payung miliknya, kemudian berjalan ke luar menuju suatu tempat.
Hujan mulai redah ketika Miranda berjalan menelusuri sebuah bukit yang tak jauh dari rumahnya. Ia melewati ilalang dan pepohonan yang menjulang tinggi. Sesekali Ia memegang dedaunan yang di atasnya terdapat butiran-butiran air sisa hujan tadi.
“Aku harap, kali ini dia memenuhi janjinya” kata Miranda.   
Miranda sampai di tempat tujuan. Di puncak sebuah bukit. Ia kemudian duduk di sebuah batu yang ukurannya cukup besar. Pemandangan dari bukit itu saat indah. Setiap orang akan betah di sana, termaksud Miranda.
3 tahun yang lalu, ditanggal, dibulan dan ditempat yang sama, Miranda juga menikmati pemandangan yang indah ini. Tapi, Ia tidak sendiri. Ada seseorang yang menemaninya.
 “Kapan pulang? Apa kamu lupa jalan pulang?” batin Miranda.
 “Lalu, apa yang kamu lakukan sekarang?”
 “Tanpamu, aku akan baik-baik saja. Tapi, apa kamu hanya ingin melihatku baik? Apa kamu tidak ingin melihatku bahagia? Aku bahagia bila bersama denganmu, di sini lanjutnya.
Hanya inilah yang dapat Miranda lakukan. Setiap akhir bulan April pergi ke tempat yang penuh dengan kenangan baginya. Tidak ada yang berubah dari tempat itu. Semuanya masih sama. Termaksud penantiannya.
Miranda Mengambil sebuah buku catatan dan pulpen dari dalam tas kecilnya. Ia menuliskan perasaannya di lembaran kertas itu.
Ini tentang..
Rasa yang tersimpan, yang tersembunyi dengan aman.
Rasa yang terpendam, yang hanya sebatas angan.
Rasa yang ingin disampaikan, namun terhalang oleh keadaan.
Rasa yang tak kunjung diucapkan karena berbagai alasan.
Ini tentang..
Keberanian yang tak pernah ditampilkan.
Rasa bertahan yang sedikit dipaksakan.
Panggilan hati yang tak pernah ada jawaban.
Menunggu dan rindu yang saling bergandengan.
Ini tentang aku...
Ini tentang rindu...
Ini tentang kamu...
Ini tentang, aku yang merindukanmu...
Miranda menutup buku catatannya. Ia menyimpannya kembali ke dalam tas di sampingnya. Ingin sekali rasanya Ia menutup semua kenangan-kenangannya, kenangan di bukit itu, tapi tak bisa Ia lakukan. Semuanya tidak semudah menutup buku catatan kecilnya.
Kemudian matanya kembali menikmati keindahan alam di bukit itu. Berharap mendapat jawaban atas semua keresahan hatinya. Setidaknya dapat mendamaikan hatinya yang sedang kacau, meski tidak sepenuhnya. Bahkan, pemandangan itu bisa membuat hatinya semakin kacau, saat kenangan itu kembali muncul di benaknya. Memang benar, hati sering beraksi dengan berbagai gerakannya hingga tak jarang menyulitkan pemiliknya.
 Karena menunggu bukan hal yang menyiksa, jika seseorang yang ditunggu benar-benar ada”, kalimat itu keluar dari mulut Miranda. Apa yang ditunggu benar-benar ada, apa rindu Miranda akan ada jawabnya. Sekian tahun menunggu namun tak pernah ada jawabannya.
Tuhan pasti punya rencana yang indah. Untuk setiap orang yang berusaha. Tidak tahu kapan, hanya perlu sedikit bersabar dan rasakan keindahannya.
“Rindu ini sungguh menyiksa, karena aku tak tahu apa dia benar-benar ada.” Sampai saat itu, seseorang yang ditunggu tak kunjung tiba. Miranda kembali menarik napas panjang,  lalu mengambil tas kecil dan payung miliknya. Ia beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan bukit itu. Langkah kecilnya berusaha menerobos rintik-rintik hujan.
“AKU PULANGGG!” teriak Miranda.
3 tahun yang lalu, di bukit itu, ada sebuah harapan dari seseorang yang ingin lebih baik, maka Miranda ikhlas melepaskan. Sebuah harapan yang bisa membawa seseorang itu pada sebuah kesuksesan, maka Miranda berusaha bertahan. Harapan seseorang yang ditutup Miranda dengan sebuah pesan "Jangan lupa pulang!".
 
Kamu tahu, setiap orang pernah merasa sedih dan aku merasakannya hari ini. Sebenarnya kesedihan bukan sesuatu yang perlu disesalkan. Kita harus ingat, dunia ini diciptakan secara seimbang. Percayalah setelah kesedihan akan ada kebahagiaan. Mungkin hari ini merasa sedih, tapi hari esok masih ada peluang untuk bahagia. Sekecil apapun peluang itu, kebahagaian itu pasti datang. Jadi, tak perlu khawatir dengan kesedihan, karena kita sedang dipersiapkan untuk menuju KEBAHAGIAAN. 
Miranda berharap mendapat kalimat kekuatan. Kenyataannya Miranda seperti dijatuhi sebuah beban yang amat berat, tepat mengenai tubuh Miranda dan perihnya terasa hingga ke tulang-tulang, saat semua orang yang mengenalnya mengatakan “Dia tak akan pulang”. Dan Miranda selalu menguatkan dirinya dengan, “Sebenarnya dia ingin pulang, dia hanya tersesat saat menuju pulang, yang harus ku lakukan adalah memberikanya petunjuk agar dia sampai padaku dengan selamat. Dia pasti pulang” batin Miranda.
Rindu itu tentang waktu dan waktu itu ilusi. Maka, Rindu hanyalah ilusi.

Saat terlalu jauh kakimu melangkah, saat terlalu lama kamu meninggalkan,
Ingatlah pulang...
 Kalau pergi, ingat pulang, (selagi) aku masih menunggumu.....”


Gambar by @MuthMutt :))

Buat Mutiah Sari alias Mutmut:
Terima kasih untuk gambar kerennya. Maaf tulisanku kepanjangan yang mengharuskan kamu pakai imajinasi tingkat ALAYmu. hahaha :D Oyah, ku tegaskan cerita ini hanyalah cerita fiktif bukan seperti yang kamu bayangkan, hehehe :p
Dan sepertinya aku ketagihan berduet denganmu.. :))


(Makassar, 28 April 2014) -Ina Novita-





Rabu, 14 Mei 2014

Semacam takdir



Aku mengatakannya semacam takdir, karena kami memang tidak terpisahkan, tapi aku hanya berani mengatakannya semacam takdir, bukan takdir itu sendiri, karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati tapi sungguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti, karena sesungguhnyalah hubungan cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. Cinta yang abadi ku kira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan, cinta yang abadi adalah sesuatu yang diperjuangkan terus menerus sehingga cinta itu tetap ada, tetap bertahan, tetap membara, tetap penuh pesona, tetap menggelisahkan, tetap misterius dan  tetap terus menerus menimbulkan tanya : Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku?

Petikan cerpen “cintaku Jauh di Komodo” di buku Linguae karya Seno Gumira Ajidarma.

Saat Bulan Salah Tingkah

Di hadapan mereka, Bulan terlihat tenang dan lebih sering diam. Mungkin mereka beranggapan kalau bulan tak perhatian, bahkan sedikit sombong. Tapi, mereka tak pernah meragukan keindahan Bulan di langit malam. 

Saat bertemu denganmu, tingkah bulan mulai berubah. Sedikit aneh mungkin. Padahal kamu, Bulan dan benda-benda langit lainnya selalu bersama, bukan? Lalu, mengapa jantungnya terus memacu dengan cepat saat bertemu denganmu? Mengapa tangannya bergetar dan kakinya terasa dingin tak beralasan? Apa kamu tahu mengapa Bulan tetiba berubah?

Dalam diam sebenarnya Bulan sedang bercerita.
Kita bagai bintang-bintang di langit.
Terlihat dekat oleh mata mereka,
namun sebenarnya sangat jauh.
Pun aku berada di dekatmu,
tapi tak pernah saling sapa.
Aku hanya ingin mengenalmu,
dan menerjemahkan setiap sikapmu.
Kau yang begitu dekat,
tapi tak pernah ku kenal.
Satu hari kamu bertanya padaku:
“Hai, kamu Bulan kan? Dari mana kamu mendapatkan cahaya seindah itu?”
Untuk pertama kalinya kita bertegur sapa,
Aku berusaha menjawab sebisaku,
Sebelum berlalu, kamu berucap:
     “Kamu membuat semua terpesona dengan kecantikanmu, termaksud aku”
                                                                    
Bulan bisa bulat sempurna, Bulan bisa setengah, Bulan juga bisa sabit. Ternyata bulan juga bisa salah tingkah. Yah, Bulan salah tingkah saat berhadapan denganmu. 

Salah tingkah saat bertemu denganmu membuat bulan merasa jauh dari anggapan orang-orang padanya. Entahlah, apa yang akan mereka katakan, saat melihat Bulan salah tingkah. Bulan hanya tak ingin, mereka sadar, ada yang berubah darinya saat salah tingkah bersamamu. Mungkin Bulan akan menutup wajahnya, sehingga cahayanya yang indah akan tersamarkan. Bahkan Bulan bisa saja pergi dan bersembunyi, hingga tak ada lagi cahaya Bulan di langit malam.


Walau namanya salah tingkah, namun ku tegaskan rasaku tak salah” kata Bulan.



(Makassar malam hari 'sedang bulan purnama', 14 Mei 2014) -Ina Novita-