Sabtu, 19 Juli 2014

Perbincangan dimalam hari



 “Apa kamu pernah membayangkan bumi tanpa gravitasi?”
“Yah, aku pernah membayangkannya.”
“Apa kita akan melayang-layang seperti astronot di luar angkasa?”
“Entahlah”
“Bagaimana yah rasanya terbang melayang-layang?”
“Jangan tanyakan padaku, akukan bukan astronot”
“Ya sudah, aku ganti yah pertanyaannya. Apa kamu pernah membayangkan jika bulan tiba-tiba pergi dan tak lagi mengitari bumi?”
“Hmm.. maka kita tak akan lagi melihat bulan dimalam hari seperti sekarang ini”
“Semudah itukah kamu membiarkan bulan pergi?”
“Akukan hanya membayangkannya.”
“Setidakknya kamu bertanya, ‘menyapa bulan pergi?’“
“Memangnya kenapa?”
“Karena bulan terpaksa melakukannya”
“Lalu, ke mana perginya bulan?”
“Bulan pergi bersama Mars. Kata bulan, Mars lebih membutuhkannya.”
“Bukankah bumi juga membutuhkan bulan?”
“Tenang saja, masih banyak satelit buatan manusia yang bisa mengganti posisi bulan.”
“Satelit buatan tidak akan sama dengan satelit alami, tidak semudah itu mengganti posisi bulan.”
“Lalu kamu maunya bagaimana?”
“Bulan harus kembali mengitari bumi.”
“Kalau bulannya tidak mau?”
“Hmm... Bumi pasti akan untuk mencari pengganti bulan, yang jelas penggantinnya bukan satelit buatan manusia.”
“Hahahaha....”
“Mengapa tertawa?”
“Aku pikir bumi akan terus menunggu bulan”
“Menunggu? Sudah terlalu banyak penghuni bumi yang menunggu. Bumi tak perlu melakukan hal seperti itu”
“Begitu yah? Ternyata bumi pun tidak setia”
“Bumi tidak setia? Bukannya bulanlah yang tidak setia”
 “Bulan kan perginya karena Mars lebih membutuhkannya.”
“Tetap saja, bulanlah yang tak setia”
“Kalau bumi punya keyakinan yang kuat, bumi pasti akan menunggu bulan. Tapi bumi malah mencari pengganti bulan. Bukankah itu tidak setia?”
 “Tunggu, mengapa cerita mereka sama seperti cerita kita?”
“Oyah?  Hmm.. Kamu tahu siapa yang tidak setia diantara kita?”
*Mereka berdua tersenyum*
“Mungkin aku”
“Aku juga”
“Yah, dulu kita sama-sama tidak setia”
*Kali ini mereka tertawa*

Bulan di 17 maret 2014

 ‘Dan hal yang paling membahagiakan adalah sekarang mereka bisa tertawa bersama (lagi), seperti bulan yang tetap mengitari Bumi.’

 


 (Makassar, 19 Mei 2014) -Ina Novita-

Minggu, 13 Juli 2014

Ada yang lebih indah dari tulip dalam genggaman



Ini adalah cerita dari sebuah tempat nun jauh di sana. Tempat yang indah, penuh dengan bunga-bunga yang beraneka rupa. Perkenalkan, namanya Tulip. Dia cantik,  baik, anggun dan tentu saja banyak yang menyukainya. Termaksud aku.

Saat tulip tersenyum, semua mata menujunya. Kan sudah ku katakan kalau Tulip itu cantik. Wajahnya teduh, mendamaikan. Tulip akan terlihat anggun saat sinar matahari mengenai tubuhnya. Begitupun saat titik-titik hujan bermain-main di atasnya.

Saat terlelap pun dia tetap indah. Aku rela menunggunya hingga kembali memekarkan diri. Aku jamin, aku takkan kecewa. Saat itu aku akan tersenyum dan akan memandanginya lama-lama.

Tulip sangat baik. Tulip rela membahagiakan orang lain meskipun dia harus pergi dari tempat indah itu, tempatnya tumbuh. Berpisah dari teman-temannya. Dia begitu baik bukan?

Tulip sudah cukup senang, bila harus menjadi hadiah untuk orang lain, bila dipindahkan ke halaman rumah, atau disimpan di sebuah ruangan dengan kaca berisikan air di bawahnya. Aku tahu dia senang, maka dia tetap tersenyum. Pun kalau dia tiba-tiba mati, itu bukan karena dia merasa tak bahagia, dia hanya kurang diperhatikan oleh sang empunya. Tak percaya? tanyakan saja padanya.

 Aku suka tulip, sangat suka malah. warna? hmm... Sepertinya tulip merah telah mencuri perhatianku. Oy, aku tak sedang memintamu memberiku tulip merah, aku hanya sedang berharap...

Ada yang lebih indah dari tulip dalam genggamanmu, ada.
Kau cukup membiarkan Tulip tetap pada tempatnya,
Lalu, kita akan ke sana bersama. Iya, kita. Maukah?

(Makassar, Juli 2014) -Ina Novita-

Sabtu, 12 Juli 2014

Menembus Asa

Sering kali kita tersesat
Lalu, mencoba mencari-cari jalan.
Sering kali merasa cemas,
Lalu, memohon dengan penuh harap.
Gagal bukan berarti berhenti,
Kita harus tetap berjalan.
Gagal bukan berati kalah,
Kemenangan kita masih tertunda.
Bukan malu, tapi kita harus tetap percaya diri.
Bukan jatuh, tapi kita harus tetap berpikir positif.
Bukan mengecewakan, tapi kita hanya kurang mengesankan.
Berlarilah menembus asa..
Bermimpilah setinggi-tingginya
Berlarilah menembus asa..
Hingga kita menjadi pemenang yang sesungguhnya.
Mulailah menembus asa, dengan melangkah.
 
Foto by Zhoelfadlhy

 (Makassar, 12 juli 2014) -Ina Novita-



Rabu, 09 Juli 2014

Tidak sekarang

Sebab yang mencintaimu tidak hanya aku, aku lebih baik memilih diam. Agar kau tidak perlu kerepotan menghindariku setiap kali bertemu. Agar aku bisa menjadi temanmu. Agar kau tidak khawatir bersamaku.

Sebab yang mencintaimu tidak hanya aku, aku memilih diam. Bukan berarti aku takut. Aku hanya tidak ingin menjadi orang yang banyak bicara. Lebih baik aku bersabar terhadapmu. 

Aku tidak ingin kau merasa tidak nyaman berada di dekatku. Biarlah semua menjadi rahasia yang tidak seorang pun tahu. Tidak akan ada teman yang menggoda saat kita berada di tempat yang sama. 

Kau bisa bebas bercerita dan bermain bersama. Tanpa perlu merasa apa-apa. Tanpa perlu susah payah menghindariku hanya karena perasaanku. Tidak perlu sungkan membalas pesanku hanya karena khawatir menimbulkan sesuatu.

Biarlah semua aku simpan rapi. Agar aku bisa menjadi temanmu saat ini. Dan kau bisa menghadapi hidupmu tanpa perlu memikirkan bagaimana perasaanku. Kita tetap bisa saling bercerita sepanjang kita mau tanpa kau merasa ragu. Kita tetap bisa bermain bersama dengan teman yang lain dalam satu meja, tertawa bersama, tanpa rasa canggung.

Biarlah semua seperti ini. Keadaan ini aku pertahankan bukan karena aku takut memulai. Aku justru takut merusak suasana di waktu yang tidak tepat. Tidak semua perasaan harus dikatakan saat itu juga bukan?
Aku akan menunggu.

 By: Kurniawan Gunadi (25 Desember 2013)

Selasa, 08 Juli 2014

"Tanyaku"

"Hambatan itu pasti ada. Tapi kami mencoba mengubahya menjadi tantangan. Yang kami lakukan bukan menyerah, tapi kami berusaha menghadapi tantangan itu. Ada pengorbanan, itu pasti. Dan pembuktian adalah hasilnya. Buktinya kami masih bersama. Karena kami melakukan semua ini dengan hati" jawabnya.

-Ina Novita-