Tampilkan postingan dengan label Zeeanova. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zeeanova. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Agustus 2014

Altria, apa yang kau sembunyikan di balik janjimu?

Untuk para penebar janji, yang entah kapan kalian memenuhi janji itu, tersenyumlah. Sembari kalian menemukan waktu, tempat dan suasana yang tepat, yang dapat kalian atur sedemikin hingga tak hanya kalian yang nantinya merasa berbunga-bunga, tapi juga mereka yang telah kalian beri harapan. Sekali-kali, penuhilah permintaan mereka yang menurut kalian tak mungkin.

Untuk para penerima harap, sungguh tak pantas kalian menuntut ini dan itu. Ini saja mereka tak sanggup wujudkannya, apalagi itu. Harapanmu untuk menggenggam senja begitu tinggi, apalagi membawanya pulang. Bukankah hal-hal sederhana juga harapan?! Yang terpenting kalian masih bisa tersenyum.

Tersenyumlah, hingga kalian semua tahu perasaan Altria. Yang berjanji dengan janji yang begitu sederhana, tapi tak akan pernah bisa ia penuhi karena satu hal, kematian. Semoga kalian semua masih bisa tersenyum.


"Maaf, untuk pertemuan yang ku janjikan" -Altria-



(Makassar, 24 Agustus 2014) -Ina Novita-

Sabtu, 19 Juli 2014

Perbincangan dimalam hari



 “Apa kamu pernah membayangkan bumi tanpa gravitasi?”
“Yah, aku pernah membayangkannya.”
“Apa kita akan melayang-layang seperti astronot di luar angkasa?”
“Entahlah”
“Bagaimana yah rasanya terbang melayang-layang?”
“Jangan tanyakan padaku, akukan bukan astronot”
“Ya sudah, aku ganti yah pertanyaannya. Apa kamu pernah membayangkan jika bulan tiba-tiba pergi dan tak lagi mengitari bumi?”
“Hmm.. maka kita tak akan lagi melihat bulan dimalam hari seperti sekarang ini”
“Semudah itukah kamu membiarkan bulan pergi?”
“Akukan hanya membayangkannya.”
“Setidakknya kamu bertanya, ‘menyapa bulan pergi?’“
“Memangnya kenapa?”
“Karena bulan terpaksa melakukannya”
“Lalu, ke mana perginya bulan?”
“Bulan pergi bersama Mars. Kata bulan, Mars lebih membutuhkannya.”
“Bukankah bumi juga membutuhkan bulan?”
“Tenang saja, masih banyak satelit buatan manusia yang bisa mengganti posisi bulan.”
“Satelit buatan tidak akan sama dengan satelit alami, tidak semudah itu mengganti posisi bulan.”
“Lalu kamu maunya bagaimana?”
“Bulan harus kembali mengitari bumi.”
“Kalau bulannya tidak mau?”
“Hmm... Bumi pasti akan untuk mencari pengganti bulan, yang jelas penggantinnya bukan satelit buatan manusia.”
“Hahahaha....”
“Mengapa tertawa?”
“Aku pikir bumi akan terus menunggu bulan”
“Menunggu? Sudah terlalu banyak penghuni bumi yang menunggu. Bumi tak perlu melakukan hal seperti itu”
“Begitu yah? Ternyata bumi pun tidak setia”
“Bumi tidak setia? Bukannya bulanlah yang tidak setia”
 “Bulan kan perginya karena Mars lebih membutuhkannya.”
“Tetap saja, bulanlah yang tak setia”
“Kalau bumi punya keyakinan yang kuat, bumi pasti akan menunggu bulan. Tapi bumi malah mencari pengganti bulan. Bukankah itu tidak setia?”
 “Tunggu, mengapa cerita mereka sama seperti cerita kita?”
“Oyah?  Hmm.. Kamu tahu siapa yang tidak setia diantara kita?”
*Mereka berdua tersenyum*
“Mungkin aku”
“Aku juga”
“Yah, dulu kita sama-sama tidak setia”
*Kali ini mereka tertawa*

Bulan di 17 maret 2014

 ‘Dan hal yang paling membahagiakan adalah sekarang mereka bisa tertawa bersama (lagi), seperti bulan yang tetap mengitari Bumi.’

 


 (Makassar, 19 Mei 2014) -Ina Novita-

Minggu, 13 Juli 2014

Ada yang lebih indah dari tulip dalam genggaman



Ini adalah cerita dari sebuah tempat nun jauh di sana. Tempat yang indah, penuh dengan bunga-bunga yang beraneka rupa. Perkenalkan, namanya Tulip. Dia cantik,  baik, anggun dan tentu saja banyak yang menyukainya. Termaksud aku.

Saat tulip tersenyum, semua mata menujunya. Kan sudah ku katakan kalau Tulip itu cantik. Wajahnya teduh, mendamaikan. Tulip akan terlihat anggun saat sinar matahari mengenai tubuhnya. Begitupun saat titik-titik hujan bermain-main di atasnya.

Saat terlelap pun dia tetap indah. Aku rela menunggunya hingga kembali memekarkan diri. Aku jamin, aku takkan kecewa. Saat itu aku akan tersenyum dan akan memandanginya lama-lama.

Tulip sangat baik. Tulip rela membahagiakan orang lain meskipun dia harus pergi dari tempat indah itu, tempatnya tumbuh. Berpisah dari teman-temannya. Dia begitu baik bukan?

Tulip sudah cukup senang, bila harus menjadi hadiah untuk orang lain, bila dipindahkan ke halaman rumah, atau disimpan di sebuah ruangan dengan kaca berisikan air di bawahnya. Aku tahu dia senang, maka dia tetap tersenyum. Pun kalau dia tiba-tiba mati, itu bukan karena dia merasa tak bahagia, dia hanya kurang diperhatikan oleh sang empunya. Tak percaya? tanyakan saja padanya.

 Aku suka tulip, sangat suka malah. warna? hmm... Sepertinya tulip merah telah mencuri perhatianku. Oy, aku tak sedang memintamu memberiku tulip merah, aku hanya sedang berharap...

Ada yang lebih indah dari tulip dalam genggamanmu, ada.
Kau cukup membiarkan Tulip tetap pada tempatnya,
Lalu, kita akan ke sana bersama. Iya, kita. Maukah?

(Makassar, Juli 2014) -Ina Novita-

Jumat, 23 Mei 2014

Bertemu


Malam sepertinya masih enggan berlalu.
Seorang pria bertopi sedang berlari menerobos titik-titik hujan.
Seorang wanita sedang berteduh di bawah pohon sambil memegang payung.
Pria itu membawa seikat bunga tulip berwarna merah.
Langkahnya berirama,
Semakin cepat,
Dan ketika sampai...
Wanita itu memekarkan payungnya.
Beranjak dari tempatnya berteduh.
Mereka bertemu, saling berhadapan dengan jarak yang tidak begitu dekat.
Kamu tahukan, mereka yang lama tak bertemu akan menjadi kaku.
*1 menit*
*2 menit*
*3 menit*
*4 menit*
*5 menit*
*10 menit*
*20 menit*
*30 menit*
Tak ada sepatah katapun yang terucap.
Hanya suara rintik hujan yang terdengar.

“Dari jauh aku melihat senyummu yang indah, seperti tulip merah yang ku bawakan untukmu, namun entah mengapa aku takut menyerahkannya”

“Dari jauh aku melihat senyummu yang indah, yang tersamarkan oleh butiran air hujan yang jatuh dari celah topimu, namun entah mengapa aku takut berbagi payung denganmu”

Bertemu saja sudah cukup, karena kebahagiaan sedang memayungi mereka.


(Makassar '02:35', 22 Mei 2014) -Ina Novita-

Minggu, 18 Mei 2014

Tentang Rindu


Hari ini hujan lagi. Miranda memandang air hujan yang jatuh membasahi tanah. Walau matanya terlihat fokus melihat titik-titik hujan itu, namun sebenarnya pikirannya melayang, memikirkan sesuatu. Miranda menarik napas panjang dan mengalihkan pandangannya. Lalu, terluncur dari bibirnya “Aku harus menemuinya”. Ia membalikkan badan, mengambil sebuah tas kecil dan payung miliknya, kemudian berjalan ke luar menuju suatu tempat.
Hujan mulai redah ketika Miranda berjalan menelusuri sebuah bukit yang tak jauh dari rumahnya. Ia melewati ilalang dan pepohonan yang menjulang tinggi. Sesekali Ia memegang dedaunan yang di atasnya terdapat butiran-butiran air sisa hujan tadi.
“Aku harap, kali ini dia memenuhi janjinya” kata Miranda.   
Miranda sampai di tempat tujuan. Di puncak sebuah bukit. Ia kemudian duduk di sebuah batu yang ukurannya cukup besar. Pemandangan dari bukit itu saat indah. Setiap orang akan betah di sana, termaksud Miranda.
3 tahun yang lalu, ditanggal, dibulan dan ditempat yang sama, Miranda juga menikmati pemandangan yang indah ini. Tapi, Ia tidak sendiri. Ada seseorang yang menemaninya.
 “Kapan pulang? Apa kamu lupa jalan pulang?” batin Miranda.
 “Lalu, apa yang kamu lakukan sekarang?”
 “Tanpamu, aku akan baik-baik saja. Tapi, apa kamu hanya ingin melihatku baik? Apa kamu tidak ingin melihatku bahagia? Aku bahagia bila bersama denganmu, di sini lanjutnya.
Hanya inilah yang dapat Miranda lakukan. Setiap akhir bulan April pergi ke tempat yang penuh dengan kenangan baginya. Tidak ada yang berubah dari tempat itu. Semuanya masih sama. Termaksud penantiannya.
Miranda Mengambil sebuah buku catatan dan pulpen dari dalam tas kecilnya. Ia menuliskan perasaannya di lembaran kertas itu.
Ini tentang..
Rasa yang tersimpan, yang tersembunyi dengan aman.
Rasa yang terpendam, yang hanya sebatas angan.
Rasa yang ingin disampaikan, namun terhalang oleh keadaan.
Rasa yang tak kunjung diucapkan karena berbagai alasan.
Ini tentang..
Keberanian yang tak pernah ditampilkan.
Rasa bertahan yang sedikit dipaksakan.
Panggilan hati yang tak pernah ada jawaban.
Menunggu dan rindu yang saling bergandengan.
Ini tentang aku...
Ini tentang rindu...
Ini tentang kamu...
Ini tentang, aku yang merindukanmu...
Miranda menutup buku catatannya. Ia menyimpannya kembali ke dalam tas di sampingnya. Ingin sekali rasanya Ia menutup semua kenangan-kenangannya, kenangan di bukit itu, tapi tak bisa Ia lakukan. Semuanya tidak semudah menutup buku catatan kecilnya.
Kemudian matanya kembali menikmati keindahan alam di bukit itu. Berharap mendapat jawaban atas semua keresahan hatinya. Setidaknya dapat mendamaikan hatinya yang sedang kacau, meski tidak sepenuhnya. Bahkan, pemandangan itu bisa membuat hatinya semakin kacau, saat kenangan itu kembali muncul di benaknya. Memang benar, hati sering beraksi dengan berbagai gerakannya hingga tak jarang menyulitkan pemiliknya.
 Karena menunggu bukan hal yang menyiksa, jika seseorang yang ditunggu benar-benar ada”, kalimat itu keluar dari mulut Miranda. Apa yang ditunggu benar-benar ada, apa rindu Miranda akan ada jawabnya. Sekian tahun menunggu namun tak pernah ada jawabannya.
Tuhan pasti punya rencana yang indah. Untuk setiap orang yang berusaha. Tidak tahu kapan, hanya perlu sedikit bersabar dan rasakan keindahannya.
“Rindu ini sungguh menyiksa, karena aku tak tahu apa dia benar-benar ada.” Sampai saat itu, seseorang yang ditunggu tak kunjung tiba. Miranda kembali menarik napas panjang,  lalu mengambil tas kecil dan payung miliknya. Ia beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan bukit itu. Langkah kecilnya berusaha menerobos rintik-rintik hujan.
“AKU PULANGGG!” teriak Miranda.
3 tahun yang lalu, di bukit itu, ada sebuah harapan dari seseorang yang ingin lebih baik, maka Miranda ikhlas melepaskan. Sebuah harapan yang bisa membawa seseorang itu pada sebuah kesuksesan, maka Miranda berusaha bertahan. Harapan seseorang yang ditutup Miranda dengan sebuah pesan "Jangan lupa pulang!".
 
Kamu tahu, setiap orang pernah merasa sedih dan aku merasakannya hari ini. Sebenarnya kesedihan bukan sesuatu yang perlu disesalkan. Kita harus ingat, dunia ini diciptakan secara seimbang. Percayalah setelah kesedihan akan ada kebahagiaan. Mungkin hari ini merasa sedih, tapi hari esok masih ada peluang untuk bahagia. Sekecil apapun peluang itu, kebahagaian itu pasti datang. Jadi, tak perlu khawatir dengan kesedihan, karena kita sedang dipersiapkan untuk menuju KEBAHAGIAAN. 
Miranda berharap mendapat kalimat kekuatan. Kenyataannya Miranda seperti dijatuhi sebuah beban yang amat berat, tepat mengenai tubuh Miranda dan perihnya terasa hingga ke tulang-tulang, saat semua orang yang mengenalnya mengatakan “Dia tak akan pulang”. Dan Miranda selalu menguatkan dirinya dengan, “Sebenarnya dia ingin pulang, dia hanya tersesat saat menuju pulang, yang harus ku lakukan adalah memberikanya petunjuk agar dia sampai padaku dengan selamat. Dia pasti pulang” batin Miranda.
Rindu itu tentang waktu dan waktu itu ilusi. Maka, Rindu hanyalah ilusi.

Saat terlalu jauh kakimu melangkah, saat terlalu lama kamu meninggalkan,
Ingatlah pulang...
 Kalau pergi, ingat pulang, (selagi) aku masih menunggumu.....”


Gambar by @MuthMutt :))

Buat Mutiah Sari alias Mutmut:
Terima kasih untuk gambar kerennya. Maaf tulisanku kepanjangan yang mengharuskan kamu pakai imajinasi tingkat ALAYmu. hahaha :D Oyah, ku tegaskan cerita ini hanyalah cerita fiktif bukan seperti yang kamu bayangkan, hehehe :p
Dan sepertinya aku ketagihan berduet denganmu.. :))


(Makassar, 28 April 2014) -Ina Novita-