Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2017

Memantaskan diri




Kita hidup di dunia ini dengan segala predikat yang kita sandang. Mulai dari hal-hal yang baik, hingga yang ingin terlihat baik. Mungkin juga yang kurang baik, hingga yang tak ingin diketahui orang lain.

Berbicara memantasakan diri, kita sering keliru memaknainya. Kita hanya berlomba-lomba menjadi yang terbaik di depan seseorang agar kita dikatakan pantas untuknya. Menampilkan hal-hal baik yang kita lakukan di media sosial agar mendapat pengakuan orang banyak. Bahkan dengan lantang mengatakan segala yang dikerjakan orang lain itu benar atau salah tanpa merujuk dulu pada diri sendiri. Menjatuhkan banyak orang agar kita satu-satunya yang bisa disebut pantas untuk segala gelar yang baik-baik.

Memantaskan diri bukan hanya perkara menjadi baik di mata orang lain. Tapi perubahan menuju baik di hadapanNya. Hingga Allah memantaskan kita untuk takdir yang baik-baik, salah satunya berada di sekitar orang-orang yang kita sayangi.

Jangan tanyakan mengapa ada yang berubah dari sikap seorang teman, sahabat atau kaluarga kita. Tapi tanyakan pada diri kita, sudahkan kita memantaskan diri untuk menjadi seseorang yang selalu ada buat mereka di setiap keadaan.

Jangan menyalahkan guru, rekan kerja, bahkan pimpinan kita. Tapi sudahkah kita bertanya pada diri sendiri apakah kita pantas mereka hargai, jika saat di belakang mereka kita masih saja menceritakan keburukan mereka.

Semua perubahan yang baik-baik di mata manusia memang perlu, namun perubahan baik di hadapanNya jauh lebih penting. Maka perbaikilah niat setiap saat. Hingga takdir baik menghampiri kita. Namun ada yang jauh lebih penting dari itu, bersabar.

Memantaskan diri untuk segala yang datang pada kita. Memantaskan diri dari apa-apa yang telah kita punya. Dan memantaskan diri untuk cita-cita yang kita telah ikrarkan. Namun ada yang jauh lebih penting dari itu, berdoa.

Karena memantaskan diri tidak serta merta terjadi pada diri seseorang. Maka hargailah setiap proses perubahan yang menuju kepada kebaikan.

Karena memantaskan diri tidak serta merta dialamai oleh setiap orang, maka sebagai saudara yang baik, saling mengingatkanlah dengan cara-cara yang santun.

Karena memantaskan diri bukan sekadar untuk hambaNya, maka jangan terlalu dipikirkan kalimat-kalimat menjatuhkan dari orang-orang, bijaklah mendengar saran-saran.

Karena memantaskan diri bukan tentang nanti, tapi sekarang. Saat ini juga. Maka, ternyumlah, karena itu adalah tanda awal yang baik untuk memulai tahun ini. 

Selamat tahun baru 2017.

Semoga ditahun ini, semua yang baik-baik menghampiri kita dan yang kurang baik kita perbaiki bersama-sama -Inov-

Sabtu, 12 Juli 2014

Menembus Asa

Sering kali kita tersesat
Lalu, mencoba mencari-cari jalan.
Sering kali merasa cemas,
Lalu, memohon dengan penuh harap.
Gagal bukan berarti berhenti,
Kita harus tetap berjalan.
Gagal bukan berati kalah,
Kemenangan kita masih tertunda.
Bukan malu, tapi kita harus tetap percaya diri.
Bukan jatuh, tapi kita harus tetap berpikir positif.
Bukan mengecewakan, tapi kita hanya kurang mengesankan.
Berlarilah menembus asa..
Bermimpilah setinggi-tingginya
Berlarilah menembus asa..
Hingga kita menjadi pemenang yang sesungguhnya.
Mulailah menembus asa, dengan melangkah.
 
Foto by Zhoelfadlhy

 (Makassar, 12 juli 2014) -Ina Novita-



Rabu, 09 Juli 2014

Tidak sekarang

Sebab yang mencintaimu tidak hanya aku, aku lebih baik memilih diam. Agar kau tidak perlu kerepotan menghindariku setiap kali bertemu. Agar aku bisa menjadi temanmu. Agar kau tidak khawatir bersamaku.

Sebab yang mencintaimu tidak hanya aku, aku memilih diam. Bukan berarti aku takut. Aku hanya tidak ingin menjadi orang yang banyak bicara. Lebih baik aku bersabar terhadapmu. 

Aku tidak ingin kau merasa tidak nyaman berada di dekatku. Biarlah semua menjadi rahasia yang tidak seorang pun tahu. Tidak akan ada teman yang menggoda saat kita berada di tempat yang sama. 

Kau bisa bebas bercerita dan bermain bersama. Tanpa perlu merasa apa-apa. Tanpa perlu susah payah menghindariku hanya karena perasaanku. Tidak perlu sungkan membalas pesanku hanya karena khawatir menimbulkan sesuatu.

Biarlah semua aku simpan rapi. Agar aku bisa menjadi temanmu saat ini. Dan kau bisa menghadapi hidupmu tanpa perlu memikirkan bagaimana perasaanku. Kita tetap bisa saling bercerita sepanjang kita mau tanpa kau merasa ragu. Kita tetap bisa bermain bersama dengan teman yang lain dalam satu meja, tertawa bersama, tanpa rasa canggung.

Biarlah semua seperti ini. Keadaan ini aku pertahankan bukan karena aku takut memulai. Aku justru takut merusak suasana di waktu yang tidak tepat. Tidak semua perasaan harus dikatakan saat itu juga bukan?
Aku akan menunggu.

 By: Kurniawan Gunadi (25 Desember 2013)

Selasa, 08 Juli 2014

"Tanyaku"

"Hambatan itu pasti ada. Tapi kami mencoba mengubahya menjadi tantangan. Yang kami lakukan bukan menyerah, tapi kami berusaha menghadapi tantangan itu. Ada pengorbanan, itu pasti. Dan pembuktian adalah hasilnya. Buktinya kami masih bersama. Karena kami melakukan semua ini dengan hati" jawabnya.

-Ina Novita-

Minggu, 29 Juni 2014

Menyapa

Hey, tak inginkah kau menyapa? seperti malam yang menyapa setelah senja atau seperti pelangi yang menyapa setelah hujan. Terserah padamu, pilih saja. Seperti burung yang yang bebas menentukan ke mana dia akan terbang.

 

-Ina Novita-

Sabtu, 28 Juni 2014

Menjaga Kehormatan Perempuan

Bila pun saya berproses nanti. Saya berprinsip untuk tidak menyebut nama perempuan yang saya tuju secara sembarangan kepada orang lain ataupun kepada khalayak. Ini menurut saya penting, bukan soal saya tidak mengakuinya. Tapi ini cara saya untuk melindunginya (juga melindungi saya) dari fitnah. Ataupun dari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di depan. Lindungilah kehormatan perempuan dengan tidak menyebut namanya sembarang. Dengan begitu, sang perempuan akan terjaga baik kehormatan ataupun harga dirinya. Dan perempuan akan lebih percaya kepada laki-laki yang bisa menghormatinya dengan baik, tidak hanya setelah pernikahan, tapi jauh sebelum itu. Seorang ayah pasti marah bila ada laki-laki diluar sana yang dengan sembarang menyebut-nyebut anak perempuannya.

dikutip dari tulisan Kurniawan Gunadi (masgun) dengan judul yang sama.

Kamis, 19 Juni 2014

Mata"mu"

“Sekarang kamu tahukan, mengapa aku tak ingin kamu memandangi mataku. 

Yah, karena aku tak ingin kamu menemukan dirimu”


 
-Ina Novita-


Selasa, 17 Juni 2014

Senang “bertemu” kalian.




Pertama-tama saya ingin mengucapkan : Terima kasih terima kasih terima terima kasih.

Untuk om admin @SoalPalu, yang selalu update informasi tentang Palu, dimana untuk pertama kali nya saya tahu Adik Ovan (#BantuOvan) di rujuk ke Makasssar. Sebelumnya ada #BantuAhmad juga loh. :’)

Untuk kakak-kakak @SIGiMks, sebagai tempat curhatku pertama kali menyampaikan kondisi adik Ovan. Terima kasih untuk respon baiknya serta gerakan cepatnya saat itu. Dengan berat hati, saya harus mengakui kalau kalian memang keren. hahaha :’D

Untuk kaka-kaka yang selalu mendoakan adik Ovan. Kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan Ovan, kakak. Semoga Ovan lekas sembuh dan terkabul permintaannya (bisa segera pulang ke Palu dan beli sepeda baru) :’)

Untuk kaka-kaka yang telah berdonasi buat Ovan. Semoga rezekinya dilipat gandakan oleh Allah. Aminn... Malam ini saya terharu sekaligus merinding lihat donasi yang terus berdatangan. Kalian keren. Kalian luar biasaa. #MakassarKeren:')

Saat di luar sana banyak yang bertanya, “Memangnya, kamu siapanya Ovan?”, Saat di luar sana banyak yang bertanya, “Kenapa sibuk urusi Ovan?”, saya hanya bisa diam. Saya diam bukan karena tidak tahu harus menjawab apa, saya diam karena sebenarnya saya bingung, mengapa mereka bertanya seperti itu. Hehehe.. Btw, Terima kasih, karena secara tidak langsung kalian telah membantu saya untuk jawaban pertanyaan-pertanyaan itu. Meskipun dengan hal yang sama, diam (tidak menjawab dengan kata-kata melainkan dengan tindakan nyata).



Senang “bertemu” kalian kakak-kakak keren. :))
#BantuOvan


(Makassar 'RS Ibnu Sina' , 17 Juni 2014) -Ina Novita-