Selasa, 07 Juni 2016

Memiliki Kehilangan


Di bulan yang penuh berkah ini, semua orang yang terpisah jarak berharap bisa berkumpul dengan keluarganya. Jika tidak memungkinkan, mereka akan menghubungi sanak saudara yang berada di perantauan, lalu saling meminta maaf atas kesalahan. Tujuannya, agar siap lahir dan bantin untuk menjalani ibadah selama sebulan ke depan. Ketika terpisah jarak telah menemui solusinya, bagaimana dengan mereka yang terpisah dengan kematian? Mungkin yang tersisa di hati mereka hanya duka atas kehilangan orang-orang yang mereka sayangi. atau mungkin mereka sedang berusaha berdamai dengan takdirNya sembari memperbanyak doa.

Kehidupan dan kematian adalah kuasa Allah yang tak seorangpun bisa mengubahnya. Bila terlahir sebuah kehidupan, maka suatu saat akan ada kematian. Tidak mengenal tua atau muda, pria atau wanita, miskin atau kaya, kematian akan menjemput kita semua. Sedang kita tidak dapat menghindar bahkan berpaling sekejap sekalipun.

"Dan, tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakan besok. Dan tiada seorangpun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati"  (QS. Luqman: 34)

Bagi mereka yang ditinggalkan, kematian berarti kehilangan. Kehilangan yang memisahkan, kehilangan yang menyakitkan, kehilangan yang membuat kita ikhlas dan berserah diri hanya padaNya. Kehilangan juga yang mengajarkan kita untuk selalu mempersiapkan diri menghadapNya. Membawa bekal terbaik kita selama hidup. -maka hiduplah dengan baik-

Pernahkah kita membayangkan akan kehilangan seseorang yang kita sayangi? hari ini seorang anak bercerita tentang kenangan bersama ibunya, " Dulu, ibulah orang yang paling sabar membangunkanku untuk sahur. Jika sore hari, ibu selalu mengajakku untuk menyiapkan makanan untuk berbuka puasa bersama, tapi sekarang berbeda. Ibu telah tiada.

Saat ia mengisahkan kenangan bersama ibunya, ada sesak yang berkecamuk dalam dada.  Tak bisa membayangkan berada di posisinya. Pada akhirnya, Saya mengira akan ada tangisan di ujung kisah, tapi saya salah. Menurut saya, semua itu bukan karena dia adalah wanita yang kuat. Bagi saya dia adalah contoh orang  yang memiliki kehilangan.

Siap memiliki berarti siap kehilangan. maka, Memiliki kehilangan adalah tanda bahwa semua hanyalah titipan. -semoga saya bisa mengambil hikmahnya-


Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis SIGi Makassar, #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan teman lainnya di sini:

nuralmarwah.com
 
bukanamnesia.blogspot.com  
nurrahmahs.wordpress.com 
rahmianarahman.blogspot.com  
kyuuisme.wordpress.com 
rancaaspar.wordpress.com 
burningandloveable.blogspot.com 
inditriyani.wordpress.com
uuswatunhasanah.tumblr.com 




 Palu, 7 Juni 2016 -Ina Novita-


Senin, 06 Juni 2016

Benci Sifatnya, Bukan Orangnya.









Hari ini, berapa banyak orang yang kita temui? Pertemuan yang seperti apa yang kita jumpai? Pertemuan yang mungkin kita rencanakan atau pertemuan yang tak disengaja. Bertemu dengan mereka yang kita kenal maupun mereka yang baru kali pertama bertemu dengan kita. Bertemu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang telah lama tertunda atau pertemuan yang hanya sebatas menuntaskan rindu. Lantas berapa banyak dari pertemuan kita itu, yang pada akhirnya tidak sesuai dengan harapan kita? 


Hari ini, Berapa banyak kawan yang kita sapa? Kawan yang kita kenal sejak lama atau kawan baru yang kita kenal dari berbagai perkumpulan. Menyapa mereka diwaktu luang kita, untuk sekadar bertanya “Apa kabar?”. Memastikan mereka baik-baik saja. Menyapa melalui berbagai media sosial, baik yang sekota dengan kita maupun yang ada di benua berbeda. Lantas berapa banyak sapaan yang kita ramu dengan candaan namun berujung luka?


Setiap manusia memang diciptakan mempunyai sifat yang berbeda-beda. Bahkan dua anak kembar sekalipun tetap saja mempunyai sifat berbeda, meski terlahir dari rahim yang sama dan lahir dalam waktu yang hampir bersamaan. Dari sejumlah kawan yang kita punya, merekapun terlahir dengan sifat yang berbeda-beda. Ada sifat yang membuat kita terkagum-kagum, namun tak jarang sifat yang menyakiti hati kita. Lantas, kawan mana dan sifat apa yang kita temui hari ini?


Saat ada pertemuan yang tidak sesuai dengan harapan, sapaan dan candaan yang berujung luka, dan sifat yang menyakiti hati kita. Kesemuanya adalah bentuk ujian untuk kita. Ibarat makanan dan minuman yang menggoda saat kita berpuasa. Ujian-ujian itu akan terus datang menghampiri kita, namun akan berujung manis saat kita bersabar dan bersandar hanya kepadaNya. 


Sebab Dia selalu punya rencana dibalik pertemuan dan sapaan kita. Apapun hasil dari pertemuan, ujung dari sapaan, baik dan buruknya, suka dan tidak sukanya, semua tergantung pemikiran kita. Berharap kita bisa belajar dari segala hal yang kita temui. Kita adalah hamba-hamba yang akan terus belajar mensyukuri segala nikmatNya. Salah satunya adalah nikmat memiliki kawan, nikmat ketidaksendirian kita di muka bumiNya.


Segala sifat yang berujung luka, balaslah dengan kebaikan. Segala kesalahan kita hapuslah dengan kebaikan. Sekecil apapun itu, diketahui orang lain atau tidak, dilihat orang lain atau tidak, dipuji orang lain atau tidak, tetaplah berbuat baik. 


“… Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. …” (11:114)


Mari saling mengingatkan untuk tidak membenci seseorang, sebab boleh jadi, seseorang yang kita benci itu lebih baik amalannya dari kita. Cukup membenci sifatnya. Bila memungkinkan, beritahulah ia dengan cara yang terbaik. Yang tidak menyinggung perasaannya. Lakukan sebagaimana kita ingin diperlakukan. Bukankah ini manfaat dari punya kawan? Untuk saling mengingatkan. Sekali lagi, benci sifatnya, bukan orangnya.


Perihal setiap orang tidak terlepas dari kesalahan. Dengarlah kawan, bilamana Allah membuka seluruh aibku, niscaya kau tak ingin berkawan denganku~


Mohon maaf atas segala kesalahan. 


Marhaban ya Ramadhan.



Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis SIGi Makassar, #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan teman lainnya di sini:

nuralmarwah.com
bukanamnesia.blogspot.com
dendelionwannabe.wordpress.com
rahmianarahman.blogspot.com
kyuuisme.wordpress.com
rancaaspar.wordpress.com
burningandloveable.blogspot.com
inditriyani.wordpress.com


 Palu, 6 Juni 2016 -Ina Novita-







Kamis, 12 Mei 2016

Gubuk Itu Bernama Sekolah


Di sebuah desa, berdirilah gubuk kecil yang letaknya tidak jauh dari jalan raya. Gubuk itu berdinding papan yang berlubang, hingga seukuran kepala orang dewasa. Beralaskan tanah tidak rata serta bergelombang. Atapnya tidak menempel dengan sempurna. Sehingga saat angin bertiup, atap gubuk tersebut seakan menari mengikut arah angin, menimbulkan bunyi yang sudah tentu tidak merdu di telinga. Meski begitu, atap gubuk tersebut seperti enggan lepas. Seakan Tuhan telah menakdirkannya menjadi salah satu saksi bisu, yang kalau ditanya ia tidak akan bisa memberikan sedikitpun informasi.

Gubuk itu bernama sekolah.

Tepat di hadapan gubuk tersebut, berdiri dengan gagahnya sebuah tiang yang terbuat dari bambu. Di puncak tiang tersebut terdapat benda yang sakral bagi negara kita, bendera Merah Putih. Tiang dan gubuk itu seperti dua insan yang saling melengkapi dan saling menyemangati. Meski sama-sama sulit untuk tetap berdiri, tapi mereka sangatlah beruntung. Sebab, mereka bisa melihat langsung potret pendidikan di daerah pedalaman. Tidak hanya itu, mereka juga selalu setia menyambut pahlawan (tanpa tanda jasa) yang sedang memperjuangkan pendidikan.

Gubuk itu bernama sekolah.

Sebab, semua sekolah selalu istimewa. Maka seperti sekolah lainnya, gubuk itu pun sama istimewanya. Kursi, meja, papan tulis, semuanya ada. lihatlah!
 





Gubuk itu bernama sekolah.
Namun, tak layak disebut sekolah.

Jika hakikatnya membangun sekolah adalah membangun generasi bangsa. Lalu, mengapa kita hanya diam saja melihat ini terjadi di sekitar kita?


Loc: SD BK Kelas Jauh, Dongi-Dongi, Sulawesi Tengah.
(12 Desember 2015)

 

Palu, 12 Mei 2016 -Ina Novita-

Senin, 25 April 2016

(SIGi_Mks; Yang tak akan terlupakan)


Indonesia tertinggal dari negara lain karena punya tiga masalah besar, masalah besar pertama adalah “pendidikan”, masalah besar yang kedua adalah “pendidikan”, dan masalah besar yang ketiga adalah “pendidikan”.

Begitulah kutipan dari sebuah buku pendidikan yang saya baca sekitar tiga tahun yang lalu. Kata “pendidikan” yang diulang sebanyak tiga kali seakan ingin mengatakan bahwa, Indonesia punya pekerjaan rumah yang sangat besar untuk segera diselesaikan. Masalah pendidikan yang begitu kompleks dan mencakup segala lini, tidak memungkinkan pemerintah untuk bergerak sendiri menyelesaikanya. Perlu adanya kerja sama semua pihak untuk segera turun tangan mengambil tindakan yang bisa dilakukan sekecil apapun tindakan itu. 

Berangkat dari keresahan tersebut. Saya sadar, kata prihatin yang terucap dari mulut saya tidak akan menyelesaikan masalah. Dan kebiasaan saling menyalahkan tanpa memberikan solusi apapun bagi saya hanyalah akan menimbulkan masalah baru. Gagasan-gagasan di kepala saya yang tidak ada aplikasinya pun hanyalah omong kosong.

Pada akhir tahun 2013. Saya yang saat itu berstatus mahasiswa pendidikan di Makassar, mulai mempertanyakan peran saya, ”Apa yang bisa saya lakukan untuk pendidikan di Indonesia?” Namun, kekeliruan saya saat itu adalah berpikir dan fokus pada tindakan-tindakan besar yang akan saya lakukan. Salah satunya adalah keinginan saya yang sangat kuat untuk mengikuti program mengajar di daerah pedalaman dan pelosok Indonesia. Pikir saya, inilah cara terbaik untuk menjawab pertanyaan di kepala saya saat itu.

Hingga pada suatu sore. Setelah pulang dari kuliah, saya bertemu seorang gadis kecil di sebuah daerah “kumuh” di Makassar. Gadis kecil itu memakai rok sekolah berwarna merah, lalu saya menghampirinya,

“Hallo adik, namanya siapa?” tanyaku, namun gadis kecil itu tidak menjawab.

“Baru pulang sekolah yah? Masuk siang?” tanyaku lagi. Masih dengan respon yang sama. Gadis kecil itu masih diam.

Di pikiran saya, gadis kecil itu sedang malu-malu. Maka, mulailah saya melakukan pendekatan dan mencoba mengakrabkan diri. Kini jarak kami cukup dekat.

“Adik kelas berapa?” 

Karena saya tahu tidak akan ada respon balik, saya kemudian meluncurkan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Mungkin saja dia akan menjawab salah satu dari beberapa pertanyaan yang saya ajukan. Hingga pada satu pertanyaan, yang menjadi pertanyaan terakhir.

“Kenapa roknya dipakai bermain? Nanti roknya kotor, besokkan masih mau dipakai!” 

Gadis kecil itu merespon, tatapannya berubah. Berubah menjadi sangat tajam ketika menatap. Ketika saya hendak melanjutkan pertanyaan, tiba-tiba saya melihat matanya berkaca-kaca. Ia berbalik arah dan lari meninggalkan saya tanpa berkata sapatah katapun. 

Saat gadis kecil itu telah menghilang dari pandangan, saya menghampiri anak-anak lain yang sedang bermain di sekitar tempat itu. Saya tanyakan mengenai gadis kecil tadi.  Dan saya sangat terkejut saat mendapatkan informasi dari salah seorang anak, yang mengatakan bahwa, “Dia tidak sekolah kak. Dia pemulung, membantu orangtuanya”

Perasaan saya bercampur aduk saat itu. Sedih dan merasa bersalah, karena saat itu saya sadar, saya menggunakan kalimat yang tidak ingin ia dengarkan, mungkin menyakiti hatinya. Perasaan bersalah itu semakin tumbuh karena saya tidak bisa meminta maaf secara langsung. Sebab sejak saat itu, saya tidak pernah lagi bertemu dengannya.

Hari itu saya ingat betul, kesalalahan saya bukan hanya mematahkan hatinya mungkin juga mematahkan impiannya untuk bersekolah. Kejadian tersebut menyadarkan saya bahwa permasalahan pendidikan benarlah sangat rumit dan ada di mana-mana. Tidak harus mencarinya hingga ke pedalaman dan pelosok Indonesia. Cukup membuka mata lebar-lebar dan peka terhadap apa yang sedang terjadi di sekitar kita.

Sejak saat itu, saya mengubah cara saya untuk menjawab pertanyaan “Apa yang bisa saya lakukan untuk pendidikan di Indonesia?”. Saya berpikir untuk melakukan hal-hal yang sederhana yang bisa saya lakukan di Makassar. Mulailah saya mencari gerakan dan komunitas yang peduli terhadap pendidikan di Makassar. Dari media sosial, saya menemukan sebuah komunitas yang bernama SIGi Mks (Sahabat Indonesia Berbagi) Regional Makassar. 

Setelah membaca sekilas mengenai SIGi Makassar, saya merasa visinya dalam berbagi sesuai dengan apa yang saya cari. Jika ditanya apa yang bisa saya bagikan, jawabannya apapun yang saya miliki. Mulai dari hal yang paling sederhana, berbagi senyuman terbaik, berbagi sedikit cerita, berbagi canda dan tawa, berbagi waktu luang, berbagi sedikit ilmu hingga berbagi rezeki yang saya punya. 

Setelah mendaftarkan diri via online, saya mendapatkan informasi dari admin SIGi Makassar mengenai pertemuan terdekat yakni RK, (Receh Kahuripan adalah sebuah kegiatan mengumpulkan uang “Receh” setiap bulannya dari para relawan, yang nantinya akan digunakan untuk kegiatan-kegiatan berbagi di SIGi Makassar). Saya lantas berpikir untuk mengajak salah satu teman kuliah saya saat itu, Nur Utami alias Meche (Orang pertama yang saya “jebak” masuk ke komunitas SIGi Makassar). Niat baikpun disambut dengan baik. Meche tertarik untuk ikut.

Hari yang dinanti tiba, sore itu dengan bermodal uang receh seadanya dan semangat berbagi, kami (Saya dan Meche) menelusuri jalanan kota Makassar menuju satu tempat yang menjual makanan khas Jepang. Menurut informasi yang saya dapatkan, di sanalah tempat SIGiers (sebutan untuk para relawan SIGi) akan berkumpul. 

Sesampainya di tempat yang dimaksud, saya melihat seorang wanita berjilbab sedang duduk sendiri. Di atas meja di hadapannya terdapat sebuah botol minuman yang ditempelkan logo “SIGi Mks”, dari situlah saya tahu bahwa orang tersebut adalah SIGier. Kamipun menghampiri dan memperkenalkan diri. Indira Nur Triyani, itulah nama dari SiGier yang dengan baik hati menyambut kami. Ia menjelaskan secara singkat mengenai apa itu SIGi dan kegiatan-kegiatannya apa saja yang dilakukan, sambari menunggu SIGiers yang lain datang ke tempat itu. 

Dari sanalah awal semangat berbagi itu mulai terasa. Lingkungan positif sangat mempengaruhi kita untuk melakukan hal-hal yang positif. Saat bertemu para SIGiers, saya merasa semangat berbagi itu muncul berkali-kali lipat. Yang kami lakukan memang tidak serta merta dapat menyelesaikan masalah pendidikan yang begitu kompleks. Namun saya berharap, tindakan-tindakan kecil yang berusaha SIGi Makassar lakukan dengan konsisten, suatu hari akan berbuah hasil yang manis. Dan pertanyaan di kepala saya mengenai “Apa yang bisa saya lakukan untuk pendidikan di Indonesia?” sedikit demi sedikit akan menemukan jalannya.

Bagi saya, berbagi itu layaknya sebuah pilihan perjalanan. Banyak komunitas yang siap menjadi kendaraan. Dan saat itu, saya memilih komunitas SIGi Makassar sebagai kendaraan saya. Selama berbagi bersama SIGiers, saya merasa berada di kendaraan yang benar. Kendaraan itu yang akan membawa saya pada satu tujuan, bahagia.

                                  


 * * * Mereka yang tak akan terlupakan * * *

Terima kasih kepada SIGiers dan adik-adik (yang pernah terlibat dalam kegiatan SIGi Makassar) untuk pengalaman yang sangat berharga, meski dalam waktu yang sangat singkat, banyak pelajaran yang bisa saya ambil. Bahkan pelajaran tersebut bagi saya lebih bermanfaat dari teori-teori pendidikan yang saya dapatkan di perkuliahan (ini serius). Meskipun saat ini saya berada di Kota yang berbeda, semangat berbagi SIGi Makassar masih sangat terasa. Teruslah berbagi dan menginspirasi.

Terima kasih juga untuk teman-teman yang pernah saya “jebak” bergabung di SIGi Makassar. Jujur saja, saya memikirkan hal ini (“menjebak” kalian) sejak pertama kali saya bergabung ke komunitas ini. Sebab saya tahu, saya tidak akan lama berada di Makassar, dan berharap kalianlah yang akan melanjutkan semangat berbagi di sana (heheheh, maafkan). Selain alasan itu, yang terpenting adalah saya tidak ingin menjadi manusia egois, yang hanya ingin merasakan indahnya dan bahagianya berbagi seorang sendiri. Itulah mengapa saya “menjebak” kalian, agar kalian juga merasakan bahagia yang saya rasakan. 

Terakhir, untuk gadis kecil berrok merah, yang entah siapa namanya. Izinkan saya meminta maaf atas kesalahan saya. Tidak ada niatan untuk mematahkan impianmu. Semoga dengan saya berusaha merajut impian-impian teman-temanmu yang lain, yang sama membutuhkannya denganmu, kesalahan saya bisa kamu maafkan. Dimanapun kamu berada, terima kasih telah menjadi penyemangat tersendiri untuk saya. Semoga akan ada hari baik dan cerita yang baik saat kita bertemu nanti.

Paling akhir, untuk semua yang membaca tulisan ini, mohon doanya untuk “kelahiran” adik baru dari SIGi_Mks di sini. Terima kasih.

#JadilahOrangHebatYangBergerakKetikaTergerak
#BerbagiTakAkanMembuatmuRugi
#SalamSIGiCeria

Palu, 21 April 2016  - Ina Novita