Senin, 06 Juni 2016

Benci Sifatnya, Bukan Orangnya.









Hari ini, berapa banyak orang yang kita temui? Pertemuan yang seperti apa yang kita jumpai? Pertemuan yang mungkin kita rencanakan atau pertemuan yang tak disengaja. Bertemu dengan mereka yang kita kenal maupun mereka yang baru kali pertama bertemu dengan kita. Bertemu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang telah lama tertunda atau pertemuan yang hanya sebatas menuntaskan rindu. Lantas berapa banyak dari pertemuan kita itu, yang pada akhirnya tidak sesuai dengan harapan kita? 


Hari ini, Berapa banyak kawan yang kita sapa? Kawan yang kita kenal sejak lama atau kawan baru yang kita kenal dari berbagai perkumpulan. Menyapa mereka diwaktu luang kita, untuk sekadar bertanya “Apa kabar?”. Memastikan mereka baik-baik saja. Menyapa melalui berbagai media sosial, baik yang sekota dengan kita maupun yang ada di benua berbeda. Lantas berapa banyak sapaan yang kita ramu dengan candaan namun berujung luka?


Setiap manusia memang diciptakan mempunyai sifat yang berbeda-beda. Bahkan dua anak kembar sekalipun tetap saja mempunyai sifat berbeda, meski terlahir dari rahim yang sama dan lahir dalam waktu yang hampir bersamaan. Dari sejumlah kawan yang kita punya, merekapun terlahir dengan sifat yang berbeda-beda. Ada sifat yang membuat kita terkagum-kagum, namun tak jarang sifat yang menyakiti hati kita. Lantas, kawan mana dan sifat apa yang kita temui hari ini?


Saat ada pertemuan yang tidak sesuai dengan harapan, sapaan dan candaan yang berujung luka, dan sifat yang menyakiti hati kita. Kesemuanya adalah bentuk ujian untuk kita. Ibarat makanan dan minuman yang menggoda saat kita berpuasa. Ujian-ujian itu akan terus datang menghampiri kita, namun akan berujung manis saat kita bersabar dan bersandar hanya kepadaNya. 


Sebab Dia selalu punya rencana dibalik pertemuan dan sapaan kita. Apapun hasil dari pertemuan, ujung dari sapaan, baik dan buruknya, suka dan tidak sukanya, semua tergantung pemikiran kita. Berharap kita bisa belajar dari segala hal yang kita temui. Kita adalah hamba-hamba yang akan terus belajar mensyukuri segala nikmatNya. Salah satunya adalah nikmat memiliki kawan, nikmat ketidaksendirian kita di muka bumiNya.


Segala sifat yang berujung luka, balaslah dengan kebaikan. Segala kesalahan kita hapuslah dengan kebaikan. Sekecil apapun itu, diketahui orang lain atau tidak, dilihat orang lain atau tidak, dipuji orang lain atau tidak, tetaplah berbuat baik. 


“… Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. …” (11:114)


Mari saling mengingatkan untuk tidak membenci seseorang, sebab boleh jadi, seseorang yang kita benci itu lebih baik amalannya dari kita. Cukup membenci sifatnya. Bila memungkinkan, beritahulah ia dengan cara yang terbaik. Yang tidak menyinggung perasaannya. Lakukan sebagaimana kita ingin diperlakukan. Bukankah ini manfaat dari punya kawan? Untuk saling mengingatkan. Sekali lagi, benci sifatnya, bukan orangnya.


Perihal setiap orang tidak terlepas dari kesalahan. Dengarlah kawan, bilamana Allah membuka seluruh aibku, niscaya kau tak ingin berkawan denganku~


Mohon maaf atas segala kesalahan. 


Marhaban ya Ramadhan.



Tulisan ini diikutkan dalam tantangan kelas menulis SIGi Makassar, #SigiMenulisRamadhan. Baca tulisan teman lainnya di sini:

nuralmarwah.com
bukanamnesia.blogspot.com
dendelionwannabe.wordpress.com
rahmianarahman.blogspot.com
kyuuisme.wordpress.com
rancaaspar.wordpress.com
burningandloveable.blogspot.com
inditriyani.wordpress.com


 Palu, 6 Juni 2016 -Ina Novita-







Tidak ada komentar:

Posting Komentar