Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendidikan (Cerpen). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendidikan (Cerpen). Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Mei 2016

Gubuk Itu Bernama Sekolah


Di sebuah desa, berdirilah gubuk kecil yang letaknya tidak jauh dari jalan raya. Gubuk itu berdinding papan yang berlubang, hingga seukuran kepala orang dewasa. Beralaskan tanah tidak rata serta bergelombang. Atapnya tidak menempel dengan sempurna. Sehingga saat angin bertiup, atap gubuk tersebut seakan menari mengikut arah angin, menimbulkan bunyi yang sudah tentu tidak merdu di telinga. Meski begitu, atap gubuk tersebut seperti enggan lepas. Seakan Tuhan telah menakdirkannya menjadi salah satu saksi bisu, yang kalau ditanya ia tidak akan bisa memberikan sedikitpun informasi.

Gubuk itu bernama sekolah.

Tepat di hadapan gubuk tersebut, berdiri dengan gagahnya sebuah tiang yang terbuat dari bambu. Di puncak tiang tersebut terdapat benda yang sakral bagi negara kita, bendera Merah Putih. Tiang dan gubuk itu seperti dua insan yang saling melengkapi dan saling menyemangati. Meski sama-sama sulit untuk tetap berdiri, tapi mereka sangatlah beruntung. Sebab, mereka bisa melihat langsung potret pendidikan di daerah pedalaman. Tidak hanya itu, mereka juga selalu setia menyambut pahlawan (tanpa tanda jasa) yang sedang memperjuangkan pendidikan.

Gubuk itu bernama sekolah.

Sebab, semua sekolah selalu istimewa. Maka seperti sekolah lainnya, gubuk itu pun sama istimewanya. Kursi, meja, papan tulis, semuanya ada. lihatlah!
 





Gubuk itu bernama sekolah.
Namun, tak layak disebut sekolah.

Jika hakikatnya membangun sekolah adalah membangun generasi bangsa. Lalu, mengapa kita hanya diam saja melihat ini terjadi di sekitar kita?


Loc: SD BK Kelas Jauh, Dongi-Dongi, Sulawesi Tengah.
(12 Desember 2015)

 

Palu, 12 Mei 2016 -Ina Novita-

Senin, 28 April 2014

Tiga Kata untuk Pendidikan Indonesia



Hallo pe(ndidik)muda.. 

Pendidikan menjadi salah satu tema yang sekarang sedang hangat diperbincangkan. Menjamurnya masalah pendidikan dan solusi yang tak kunjung diperoleh, menambah panjang daftar perbincangan pendidikan saat ini. Dan kata prihatin tidaklah cukup untuk menyelesaikan masalah pendidikan yang telah terjadi tersebut, namun aksi nyata menjadi pembuktian kalau kita benar-benar peduli dengan pendidikan di Indonesia.

Tanggal 25 April yang lalu, saya sempat berdiskusi singkat (bertanya lebih tepatnya) mengenai pendidikan dengan @munadryaslam.



Saya                           : “3 kata untuk pendidikan di Indonesia?”

@munadryaslam           : “Orientasi, Dedikasi, Inovasi”


"1. Orientasi pendidikan kita tidak pernah jelas, lihat perubahan kurikulum yang sering sekali dilakukan, itu bukan untuk kemajuan tapi lebih karena uang. Pada saat pembahasan dan perancangan kurikulum, itu lebih kepada nilai proyeknya dan banyaknya dana yg dihabiskan.. tapi lihat hasilnya, NOL. Orientasi para pendidik pun demikian, (kebanyakan) hanya berorientasi materi, hanya sedikit yang merasa punya tanggung jawab moral untuk 'mendidik'.

2.  Dedikasi, penting karena di dalamnya terdapat tanggung jawab moral untuk menjadikan peserta didik lebih maju, bukan bermasa bodoh dengan hanya 'menyuap'. Orang (baca: guru) yang tak berdedikasi, hanya mementingkan materi, setelah itu terserah siswanya mau ngerti atau tidak.. yaa.. terserah.. begitu sekarang yg kebanyakan. Sedangkan, mereka yang berdedikasi cenderung idealis dan merupakan minoritas yang akan 'dibunuh' oleh sistem karena berbeda pendapat.

3.  Inovasi, banyak pendidik kemudian mengajar dengan cara bagaimana dia diajar. Monoton, miskin inovasi, padahal keadaan pada saat ia jadi siswa sudah beda dengan inovasi, bisa membuat pelajaran penuh makna dan lebih menarik sehingga peserta didik juga tertarik.. untuk tahu lebih jauh materi yg disampaikan. Jadi, orang-orang yang jelas orientasinya akan memiliki dedikasi yang baik dan akan terus memaksa dirinya untuk lebih inovatif dalam menyampaikan pelajaran.
    kesimpulannya, untuk membuat pendidikan menjadi lebih baik, dimulai dari diri sendiri dulu, mulai dari hal yang kecil dan mulai dari sekarang".

Saya sepakat dengan apa yang dituliskan di atas, bahwa “untuk membuat pendidikan lebih baik, dimulai dari sendiri dulu”, karena pendidikan bukan hanya urusan pemerintah, tapi urusan kita semua.

“Kegagalan terbesar pendidikan bukan karena banyaknya masalah pendidikan yang terjadi, tetapi karena kita yang hanya diam melihat masalah-masalah itu terjadi di sekitar kita"

 Salam Pendidikan! ^^

(Makassar (malam hari), 28 April 2014) -Ina Novita-
 

Senin, 03 Maret 2014

Pendidikan Di bawah Garis Terdepan



            Suatu bangsa dapat berkembang jika tiga hal ini dapat terlaksana dengan baik. Yang pertama: pendidikan, yang kedua: pendidikan dan yang ketiga: pendidikan. Pendidikan menjadi sesuatu yang sangat fundamental untuk suatu bangsa. Jika pendidikan suatu bangsa baik, maka bangsa tersebut akan baik pula, begitu juga sebaliknya. Kesadaran pentingnya pendidikan juga diaminkan oleh bangsa kita, bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia memasukkan pendidikan sebagai tujuan negara yang juga terdapat pada pembukaan UUD 1945.
        Bangsa Indonesia telah melakukan perbaikan dalam sektor pendidikan secara berkesinambungan. Ini mencerminkan bahwa bangsa kita sangat menjunjung tinggi pendidikan. Sebab, pendidikan sangat berperan penting dalam mewujudkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bermoral. Namun, untuk mencapai itu semua, ada banyak permasalahan-permasalahan pendidikan yang harus dihadapi bangsa Indonesia. Permasalahan tersebut bukan tidak mungkin untuk diselesaikan, tapi bukan pula sesuatu yang mudah untuk diselesaikan.
Jika Negara Korea Selatan yang dulunya masih tertinggal jauh dari Indonesia, dan sekarang menjadi salah satu negara yang patut diperhitungkan di Asia. Indonesia tentu dapat mengejar ketertinggalan tersebut dengan membenahi “pendidikan” di negara kita. Yang diperlukan bukan saling menyalahkan, yang diperlukan bukan meratapi ketertinggalan, tetapi memperbaiki kesalahan dan menjadikan ketertinggalan menjadi cambuk semangat untuk mewujudkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya serta menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermoral.
Mari menjadikan pendidikan sebagai hal utama untuk memperbaiki bangsa kita. Meletakkan pendidikan di “garis terdepan” untuk mencapai tujuan bangsa Indonesia. Meski saat ini pendidikan di Indonesia masih berada di “bawah garis”. Namun, dengan impian, usaha dan doa dari seluruh rakyat Indonesia, pendidikan bangsa Indonesia akan berada di “atas garis terdepan” dan akan menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang terdepan. In sha Allah.

“Benahi pendidikan, maka pendidikan akan membenahi Indonesia”
#SalamPendidikan :’)

-Ina Novita-