Minggu, 18 Mei 2014

Tentang Rindu


Hari ini hujan lagi. Miranda memandang air hujan yang jatuh membasahi tanah. Walau matanya terlihat fokus melihat titik-titik hujan itu, namun sebenarnya pikirannya melayang, memikirkan sesuatu. Miranda menarik napas panjang dan mengalihkan pandangannya. Lalu, terluncur dari bibirnya “Aku harus menemuinya”. Ia membalikkan badan, mengambil sebuah tas kecil dan payung miliknya, kemudian berjalan ke luar menuju suatu tempat.
Hujan mulai redah ketika Miranda berjalan menelusuri sebuah bukit yang tak jauh dari rumahnya. Ia melewati ilalang dan pepohonan yang menjulang tinggi. Sesekali Ia memegang dedaunan yang di atasnya terdapat butiran-butiran air sisa hujan tadi.
“Aku harap, kali ini dia memenuhi janjinya” kata Miranda.   
Miranda sampai di tempat tujuan. Di puncak sebuah bukit. Ia kemudian duduk di sebuah batu yang ukurannya cukup besar. Pemandangan dari bukit itu saat indah. Setiap orang akan betah di sana, termaksud Miranda.
3 tahun yang lalu, ditanggal, dibulan dan ditempat yang sama, Miranda juga menikmati pemandangan yang indah ini. Tapi, Ia tidak sendiri. Ada seseorang yang menemaninya.
 “Kapan pulang? Apa kamu lupa jalan pulang?” batin Miranda.
 “Lalu, apa yang kamu lakukan sekarang?”
 “Tanpamu, aku akan baik-baik saja. Tapi, apa kamu hanya ingin melihatku baik? Apa kamu tidak ingin melihatku bahagia? Aku bahagia bila bersama denganmu, di sini lanjutnya.
Hanya inilah yang dapat Miranda lakukan. Setiap akhir bulan April pergi ke tempat yang penuh dengan kenangan baginya. Tidak ada yang berubah dari tempat itu. Semuanya masih sama. Termaksud penantiannya.
Miranda Mengambil sebuah buku catatan dan pulpen dari dalam tas kecilnya. Ia menuliskan perasaannya di lembaran kertas itu.
Ini tentang..
Rasa yang tersimpan, yang tersembunyi dengan aman.
Rasa yang terpendam, yang hanya sebatas angan.
Rasa yang ingin disampaikan, namun terhalang oleh keadaan.
Rasa yang tak kunjung diucapkan karena berbagai alasan.
Ini tentang..
Keberanian yang tak pernah ditampilkan.
Rasa bertahan yang sedikit dipaksakan.
Panggilan hati yang tak pernah ada jawaban.
Menunggu dan rindu yang saling bergandengan.
Ini tentang aku...
Ini tentang rindu...
Ini tentang kamu...
Ini tentang, aku yang merindukanmu...
Miranda menutup buku catatannya. Ia menyimpannya kembali ke dalam tas di sampingnya. Ingin sekali rasanya Ia menutup semua kenangan-kenangannya, kenangan di bukit itu, tapi tak bisa Ia lakukan. Semuanya tidak semudah menutup buku catatan kecilnya.
Kemudian matanya kembali menikmati keindahan alam di bukit itu. Berharap mendapat jawaban atas semua keresahan hatinya. Setidaknya dapat mendamaikan hatinya yang sedang kacau, meski tidak sepenuhnya. Bahkan, pemandangan itu bisa membuat hatinya semakin kacau, saat kenangan itu kembali muncul di benaknya. Memang benar, hati sering beraksi dengan berbagai gerakannya hingga tak jarang menyulitkan pemiliknya.
 Karena menunggu bukan hal yang menyiksa, jika seseorang yang ditunggu benar-benar ada”, kalimat itu keluar dari mulut Miranda. Apa yang ditunggu benar-benar ada, apa rindu Miranda akan ada jawabnya. Sekian tahun menunggu namun tak pernah ada jawabannya.
Tuhan pasti punya rencana yang indah. Untuk setiap orang yang berusaha. Tidak tahu kapan, hanya perlu sedikit bersabar dan rasakan keindahannya.
“Rindu ini sungguh menyiksa, karena aku tak tahu apa dia benar-benar ada.” Sampai saat itu, seseorang yang ditunggu tak kunjung tiba. Miranda kembali menarik napas panjang,  lalu mengambil tas kecil dan payung miliknya. Ia beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan bukit itu. Langkah kecilnya berusaha menerobos rintik-rintik hujan.
“AKU PULANGGG!” teriak Miranda.
3 tahun yang lalu, di bukit itu, ada sebuah harapan dari seseorang yang ingin lebih baik, maka Miranda ikhlas melepaskan. Sebuah harapan yang bisa membawa seseorang itu pada sebuah kesuksesan, maka Miranda berusaha bertahan. Harapan seseorang yang ditutup Miranda dengan sebuah pesan "Jangan lupa pulang!".
 
Kamu tahu, setiap orang pernah merasa sedih dan aku merasakannya hari ini. Sebenarnya kesedihan bukan sesuatu yang perlu disesalkan. Kita harus ingat, dunia ini diciptakan secara seimbang. Percayalah setelah kesedihan akan ada kebahagiaan. Mungkin hari ini merasa sedih, tapi hari esok masih ada peluang untuk bahagia. Sekecil apapun peluang itu, kebahagaian itu pasti datang. Jadi, tak perlu khawatir dengan kesedihan, karena kita sedang dipersiapkan untuk menuju KEBAHAGIAAN. 
Miranda berharap mendapat kalimat kekuatan. Kenyataannya Miranda seperti dijatuhi sebuah beban yang amat berat, tepat mengenai tubuh Miranda dan perihnya terasa hingga ke tulang-tulang, saat semua orang yang mengenalnya mengatakan “Dia tak akan pulang”. Dan Miranda selalu menguatkan dirinya dengan, “Sebenarnya dia ingin pulang, dia hanya tersesat saat menuju pulang, yang harus ku lakukan adalah memberikanya petunjuk agar dia sampai padaku dengan selamat. Dia pasti pulang” batin Miranda.
Rindu itu tentang waktu dan waktu itu ilusi. Maka, Rindu hanyalah ilusi.

Saat terlalu jauh kakimu melangkah, saat terlalu lama kamu meninggalkan,
Ingatlah pulang...
 Kalau pergi, ingat pulang, (selagi) aku masih menunggumu.....”


Gambar by @MuthMutt :))

Buat Mutiah Sari alias Mutmut:
Terima kasih untuk gambar kerennya. Maaf tulisanku kepanjangan yang mengharuskan kamu pakai imajinasi tingkat ALAYmu. hahaha :D Oyah, ku tegaskan cerita ini hanyalah cerita fiktif bukan seperti yang kamu bayangkan, hehehe :p
Dan sepertinya aku ketagihan berduet denganmu.. :))


(Makassar, 28 April 2014) -Ina Novita-





2 komentar:

  1. Haha.. yg kena malah sy mungkin.. eeh.. ttg rndunya jii.. jln crita beda..
    Mmg mnunggu itu mlelahkan skli kk inov..

    Iya boleh boleh.. klo ad ide crita lagi kabarii.. hihii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ciee, yang kena ciee... :)) setiap orang punya ceritanya masing-masing, selamat menunggu kaka Mutmut #ehh :p haha :D

      yapp, nnti saya kabari lagi :))
      btw, tengkyu sdh berkunjung ke blog ini :')

      Hapus