Sabtu, 26 April 2014

Aku di sini



Dulu, aku pernah menghentikan langkahku di hadapan seseorang yang selalu membuatku tersenyum, meskipun hatiku selalu sedih karenanya. Dulu, aku pernah mengalihkan pandanganku pada seseorang di sela-sela kesibukanku, meski ia tak pernah melihatku. Dulu, aku sering mendengarkan kisah dari seseorang yang sangat suka bercerita, meski ia tidak pernah menjawab pertanyaanku. 

Dulu, Sebelum aku sadar ia tak pernah membalas senyumku. Dulu, ia tak pernah melihatku atau bahkan menjawab pertanyaanku. Dulu, aku masih di sana memperhatikannya, sampai aku terbangun dari lamunanku. 

Kini, aku berusaha berjalan lalu berlari meninggalkannya, meski aku masih sering terjatuh, bahkan sesekali berbalik memastikan bahwa ia masih berada di belakangku. Walaupun ia tak mencoba mengejarku, bahkan tak pernah sekalipun ia memalingkan pandangannya padaku.

Biarlah.. aku tak akan kembali. Sampai ia sadar kalau aku telah pergi. Sampai dia sadar, tak ada lagi seseorang yang tulus tersenyum padanya. Sampai ia sadar, semua orang sibuk dan tak ada yang memperhatikannya apalagi mendengar kisahnya. Sampai ia sadar, semuanya. 

Sampai nanti, ia datang padaku, lalu bertanya, mengapa aku pergi. Sampai nanti, ia berhenti di hadapanku lalu tersenyum padakku. Sampai nanti, ia mengalihkan pandangannya padaku. Sampai nanti, ia berbicara bahkan bercerita semua hal yang dilaluinya tanpaku.

Aku bukan pergi untuk meninggalkannya, atau melupakannya. Bukan, sama sekali bukan. Aku hanya ingin melihat, apa ia akan baik-baik saja tanpaku. Jika iya, aku akan terus di sini, tak akan kembali, sembari memperhatikannya dari jauh. Jika tidak, aku tahu Engkau akan menunjukkan jalan padanya untuk menemuiku. Ia tak perlu takut jika tersesat, karena aku akan selalu membantunya lewat doaku. Aku di sini, kawan..

“.....bersamamu atau tidak bersamamu, aku tetap kawanmu”


(Makassar pagi hari, 26 April 2014) -Ina Novita-

Rabu, 23 April 2014

Pecundang Hati


 
“Apa aku jatuh cinta lagi?”
“Padanya?”
Pertanyaan ini selalu muncul dalam pikirannya.
Ia membolak balikkan lembaran buku yang ada di hadapannya. Namun, tak ada satupun makna dari buku yang tersangkut di kepala. Perasaannya seperti benang kusut. Ia tak bisa fokus menyelesaikan tugas kuliah. Ditutupnya buku yang penuh rumus-rumus itu kemudian menghembuskan napas panjang. Hatinya mulai mengakui bahwa Ia memiliki perasaan kepada seseorang yang sekarang sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah di sampingnya. Namun, Ia mencoba menolak perasaan itu.
Diam-diam Ia mengamati, diam-diam juga benih-benih perasaan itu muncul di dirinya. Tak ada yang mengharapkan perasaan itu lahir dan berkembang, hingga Ia sendiri tak sanggup mengakui bahwa Ia jatuh cinta lagi, yah jatuh cinta untuk kesekian kalinya.
“Bukankah aku telah berjanji untuk tidak akan jatuh cinta lagi, hingga cinta yang ditetapkan-Nya menemukanku?” batinnya.
Menanggung rasa ini sendirian memang tak menyenangkan. Ketidakstabilan selalu timbul tenggelam, mengombang-ambingkan perasaan. Tapi, hidup masih berlanjut bukan, Ia harus terus berjalan ke depan.
Ia membuka kembali buku yang di hadapannya. Berusaha melupakan perasaan- perasaan yang terus menghantuinya. Setidaknya sampai Ia selesai mengerjakan tugas kuliah dan pulang ke rumah. Berharap besok Ia lupa semua perasaannya.

***

“Ahh, sampai kapan begini?” tanyanya dalam hati.
Ia tak bisa mengatur perasaannya sendiri. Mungkin sampai batas waktu yang tak bisa Ia tentukan. Sekarang yang bisa Ia lakukan hanya berupaya menghapus bayang-bayang rasa itu dan berpura-pura tidak sedang jatuh cinta. Walaupun Ia tahu, kenyaatan bahwa Ia jatuh cinta lagi itu tidak mudah. Yah, Ia tahu kalau semua itu tidaklah mudah.
“Haruskah aku berlari dari perasaanku sendiri yang bisa mengajar langkahku, haruskah aku bersembunyi dari perasaanku sendiri yang bisa menemukanku”.
Sepertinya, Ia sedang melakukan sesuatu yang sia-sia.

Dengan mulut yang tak bisa mengungkapkan rasa,
Dengan diam yang menyakitkan.
Dengan semua keadaan yang seolah mendukung perasaannya,
Dengan semua kenangan yang menyakitkan.
Haruskah mengulangnya kembali?
Tunjukkan padaku bagaimana cara berlari agar tak dapat dikejar,
Tunjukkan padaku tempat bersembunyi agar tak dapat ditemukan.
Aku sedang mencari-cari alasan.
Ia mengambil sebuah foto dari dompetnya. Fotonya bersama sahabat-sahabatnya. Foto itu diambil saat mereka liburan setahun yang lalu. Matanya tertuju pada salah satu sahabatnya.
Ia membuka-buka lagi kenangan itu, terus bertanya pada dirinya atas perasaannya sendiri. Menganalisis dorongan hati dan tindakan-tindakannya. Ia menyerah pada semacam kerumitan cinta yang membuatnya geram. Namun, Ia mencoba yakin. Ia menunggu keajaiban yang ditakdirkan untuknya.

Tok..tok..tok.. 

Terdengar ketukan pintu dari luar rumahnya. Ia menemui seseorang yang mengetuk pintu rumahnya sepagi ini. Tiba-tiba muncul seseorang di hadapannya. Seseorang dengan wajah yang tak asing baginya. Ia baru saja melihat wajah itu di foto.
“Apa kamu lupa dengan rencana kita pagi ini? mereka sedang menunggumu” kata orang itu.
 “ii..yaa... Aku siap-siap dulu.” jawabnya berusaha tenang.
Ia terlalu sibuk memikirkan perasaannya, hingga Ia hampir lupa dengan rencana liburan bersama sahabat-sahabatnya hari ini.
Seseorang itu telah beranjak, meninggalkan senyuman dan punggung yang semakin menjauh dari pintu rumahnya.
Semuanya terlalu jelas
Hanya tak ingin kita terluka
Tapi, akan membuatmu kecewa
Mungkin berpura-pura lebih indah
Walau ku tahu itu akan menyiksa..
Dan hal yang paling menyakitkan untuknya adalah saat seseorang yang Ia cintai itu, ternyata juga mencintainya.

“Pecundang hati itu, saat kau sibuk mencari alasan untuk tidak mencintai
seseorang yang kau cintai”.

(Makassar, 23 April 2014) -Ina Novita-




Kamis, 10 April 2014

Menyerah



Malam semakin larut. Satu-satunya suara yang masih terdengar adalah suara jangkrik diselingi suara hembusan nafas Naaya yang panjang. Naaya berdiri sendiri di depan rumahnya, meninggalkan kedua sahabatnya. Matanya memandang ke langit. Mencoba menerka-nerka perasaannya sendiri.

“Sudah larut malam, kok belum tidur?” Gilang datang dari arah belakang Naaya.
“Belum ngantuk” jawab Naaya singkat.
“Ohh.. Trus, ngapain di sini?”
 “Lagi lihat itu” kata Naaya sambil menunjuk ke arah sebuah bintang di langit. Sinar bintang itu terlihat berkelip, karena sinarnya dibelokan dan digoyang oleh selang selingnya udara panas dan dingin di atmosfer Bumi.
“Ohh.. Kirain lagi curhat”
“Curhat? Sama siapa?”
“Nohh...” Gilang melihat sebuah tembok yang tepat berada di sebelah Naaya. Seketika tangan Naaya mencubit lengan Gilang dan di ikuti suara rintihan kesakitan dari mulut Gilang.
“Lang..”
“Kenapa Nay?”
“Aku mau cerita. Lebih tepatnya sih minta saran ke kamu”
“Cerita aja, tapi nggak gratis yah, satu menit, satu cokelat” kata Gilang menawarkan.
“Jahat banget sih jadi sahabat!”
“Heheh, becanda Nay. Mau cerita apa?” tanya Gilang kini dengan nada penasaran.
“Kamu tahukan, kalau sejak pertama kali aku bertemu Rakha, aku mulai jatuh hati padanya?” 

Gilang mengangguk. Ia melihat dengan jelas, ada cinta di balik wajah Naaya. Cinta yang sejak pertama kali bertemu Rakha di kampus dulu. Cinta yang membawa wajah Rakha di frame kamera sahabatnya itu. Namun cinta itu tak terbalaskan. Cinta Rakha milik orang lain. Dan orang itu adalah sahabatnya sendiri.

“Kamu juga tahukan, Rakha sukanya sama Zee?“ Naaya memastikan.
“Kalau itu aku nggak tahu pasti. Soalnya Rakha nggak pernah cerita”
“Rakha nggak bisa bohong, Lang. Mulutnya memang nggak pernah cerita, tapi matanya mengatakan kalau dia sangat menyukai Zee.”
“Apa yang harus aku lakukan, Lang?” tanya Naaya
“Hmm.. kamu ikuti saja apa kata hati kamu. Mulut bisa bohong, tapi hati tidak, Nay!”
“Kalau begitu, aku nyerah, Lang” sambung Naaya pelan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

 Bunyi jangkrik itu semakin terdengar. Mengalahkan isak tangis seorang gadis yang menyerah akan cintanya. Cinta yang ia rasakan sendiri. 

“Lang, tolong katakan pada jangkrik-jangkrik itu untuk diam. Apa dia tidak tahu kalau aku sedang bersedih?!” kata Naaya sambil menghapus butiran air mata di pipinya. Gilang tersenyum mendengar permintaan sahabatnya itu. Sahabat yang dikenalnya sejak kecil. 

Sunyi mendekap kepekatan malam,
Diam membisu menunggu suara,
Hingga suara mereka mendahului kita,
Suara binatang malam.
Candanya, “Katakan pada mereka untuk diam,
Suara mereka mengganguku,
Mengganggu suasana hatiku”
Kataku, “Mengapa aku harus meminta mereka untuk diam?
Sedang mereka tak pernah memintamu untuk diam,
 apalagi memintamu untuk berhenti menangis”.
Malam masih membisu,
Hanya suara-suara binatang malam yang semakin jelas terdengar.

“... biarkan mereka bersuara, kita nikmati saja”

(Makassar, 10 April 201) -Ina Novita-

Kamis, 03 April 2014

Rencana-Nya




Allah selalu punya rencana baik,

Di balik pertemuan kita hari ini,

Di balik perdebatan kita hari ini,

Di balik amarah kita hari ini,

Di balik perjumpaan kita dengan hal-hal yang tidak kita sukai,

Di balik cobaan hari ini,

Di balik masalah hari ini,

Di balik kenyataan yang tidak sesuai harapan hari ini,.

Karena Allah punya banyak cara untuk membuat hamba-Nya memahami arti dari sebuah kata “sabar”,

Karena Allah ingin kita lebih baik dari hari kemarin..

Bersemangatlah! ^^



(Makassar, 3 April 2014) -Ina Novita-