Rabu, 14 Mei 2014

Saat Bulan Salah Tingkah

Di hadapan mereka, Bulan terlihat tenang dan lebih sering diam. Mungkin mereka beranggapan kalau bulan tak perhatian, bahkan sedikit sombong. Tapi, mereka tak pernah meragukan keindahan Bulan di langit malam. 

Saat bertemu denganmu, tingkah bulan mulai berubah. Sedikit aneh mungkin. Padahal kamu, Bulan dan benda-benda langit lainnya selalu bersama, bukan? Lalu, mengapa jantungnya terus memacu dengan cepat saat bertemu denganmu? Mengapa tangannya bergetar dan kakinya terasa dingin tak beralasan? Apa kamu tahu mengapa Bulan tetiba berubah?

Dalam diam sebenarnya Bulan sedang bercerita.
Kita bagai bintang-bintang di langit.
Terlihat dekat oleh mata mereka,
namun sebenarnya sangat jauh.
Pun aku berada di dekatmu,
tapi tak pernah saling sapa.
Aku hanya ingin mengenalmu,
dan menerjemahkan setiap sikapmu.
Kau yang begitu dekat,
tapi tak pernah ku kenal.
Satu hari kamu bertanya padaku:
“Hai, kamu Bulan kan? Dari mana kamu mendapatkan cahaya seindah itu?”
Untuk pertama kalinya kita bertegur sapa,
Aku berusaha menjawab sebisaku,
Sebelum berlalu, kamu berucap:
     “Kamu membuat semua terpesona dengan kecantikanmu, termaksud aku”
                                                                    
Bulan bisa bulat sempurna, Bulan bisa setengah, Bulan juga bisa sabit. Ternyata bulan juga bisa salah tingkah. Yah, Bulan salah tingkah saat berhadapan denganmu. 

Salah tingkah saat bertemu denganmu membuat bulan merasa jauh dari anggapan orang-orang padanya. Entahlah, apa yang akan mereka katakan, saat melihat Bulan salah tingkah. Bulan hanya tak ingin, mereka sadar, ada yang berubah darinya saat salah tingkah bersamamu. Mungkin Bulan akan menutup wajahnya, sehingga cahayanya yang indah akan tersamarkan. Bahkan Bulan bisa saja pergi dan bersembunyi, hingga tak ada lagi cahaya Bulan di langit malam.


“Walau namanya salah tingkah, namun ku tegaskan rasaku tak salah” kata Bulan.



(Makassar malam hari 'sedang bulan purnama', 14 Mei 2014) -Ina Novita-

Selasa, 13 Mei 2014

"Bangun cinta"

Orang dewasa yang berada jauh dari orang tua akan sering merindukan ibu.  Mungkin karena ibu lebih sering menelpon untuk menanyakan keadaan setiap hari. Namun, sesungguhnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk menelponmu. Saat kecil ibu memang sering mendongeng. Namun, sepulang kerja dengan wajah berminyak karena kelelahan, ayahlah yang menanyakan apa yang kamu lakukan seharian.

Saat kamu batuk atau pilek, ayah membentak, “Sudah dibilang jangan minum es,” karena ayah khawatir. Saat remaja, kamu menuntut untuk boleh keluar malam. Ayah melarang karena hanya ingin menjaga anak yang dikasihinya.

Saat kamu melanggar aturan jam malam, ayah selalu menunggu di ruang tamu dengan cemas. Ketika kamu pamit hendak kuliah di kota lain, badan ayah seperti kaku ingin memelukmu. Saat kamu merengek keperluan ini itu, ayah mengernyitkan dahi. Tanpa menolak ayah memenuhinya. Saat kamu wisuda, ayah orang yang pertama berdiri dan bertempik sorak kegirangan. Ayah tersenyum bangga.

Sampai saat ketika calon pasangan datang minta izin mengambilmu. Dengan hati-hati ayah mengikhlaskanmu disunting. Saat melihatmu duduk di pelaminan dengan orang yang dianggap layak, ayah sangat berbesar hati.

Ayah berdoa dalam hati, Ya Tuhan, jihadku sudah selesai. Setelah itu, ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu membawa cucu-cucunya. Tentu dengan rambut memutih dan tubuh mulai renta. Ia sudah tidak begitu kuat lagi untuk melindungi, menjaga dan merawatmu.

Dari kisah heroik seorang ayah di atas bisa ditemukan perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta. Jatuh cinta dalam keadaan menyukai. Bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel. Cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan itikad baik memahami konflik. Bersama-sama mencari solusi yang dapat diterima kedua belah pihak. Cinta yang dewasa tidak menyembunyikan unek-unek.

Dikutip dari buku “Guru Gokil Murid Unyu”, karya J. Sumardianta.
*Peluk jauh mama, bapak* :')

Senin, 28 April 2014

Tiga Kata untuk Pendidikan Indonesia



Hallo pe(ndidik)muda.. 

Pendidikan menjadi salah satu tema yang sekarang sedang hangat diperbincangkan. Menjamurnya masalah pendidikan dan solusi yang tak kunjung diperoleh, menambah panjang daftar perbincangan pendidikan saat ini. Dan kata prihatin tidaklah cukup untuk menyelesaikan masalah pendidikan yang telah terjadi tersebut, namun aksi nyata menjadi pembuktian kalau kita benar-benar peduli dengan pendidikan di Indonesia.

Tanggal 25 April yang lalu, saya sempat berdiskusi singkat (bertanya lebih tepatnya) mengenai pendidikan dengan @munadryaslam.



Saya                           : “3 kata untuk pendidikan di Indonesia?”

@munadryaslam           : “Orientasi, Dedikasi, Inovasi”


"1. Orientasi pendidikan kita tidak pernah jelas, lihat perubahan kurikulum yang sering sekali dilakukan, itu bukan untuk kemajuan tapi lebih karena uang. Pada saat pembahasan dan perancangan kurikulum, itu lebih kepada nilai proyeknya dan banyaknya dana yg dihabiskan.. tapi lihat hasilnya, NOL. Orientasi para pendidik pun demikian, (kebanyakan) hanya berorientasi materi, hanya sedikit yang merasa punya tanggung jawab moral untuk 'mendidik'.

2.  Dedikasi, penting karena di dalamnya terdapat tanggung jawab moral untuk menjadikan peserta didik lebih maju, bukan bermasa bodoh dengan hanya 'menyuap'. Orang (baca: guru) yang tak berdedikasi, hanya mementingkan materi, setelah itu terserah siswanya mau ngerti atau tidak.. yaa.. terserah.. begitu sekarang yg kebanyakan. Sedangkan, mereka yang berdedikasi cenderung idealis dan merupakan minoritas yang akan 'dibunuh' oleh sistem karena berbeda pendapat.

3.  Inovasi, banyak pendidik kemudian mengajar dengan cara bagaimana dia diajar. Monoton, miskin inovasi, padahal keadaan pada saat ia jadi siswa sudah beda dengan inovasi, bisa membuat pelajaran penuh makna dan lebih menarik sehingga peserta didik juga tertarik.. untuk tahu lebih jauh materi yg disampaikan. Jadi, orang-orang yang jelas orientasinya akan memiliki dedikasi yang baik dan akan terus memaksa dirinya untuk lebih inovatif dalam menyampaikan pelajaran.
    kesimpulannya, untuk membuat pendidikan menjadi lebih baik, dimulai dari diri sendiri dulu, mulai dari hal yang kecil dan mulai dari sekarang".

Saya sepakat dengan apa yang dituliskan di atas, bahwa “untuk membuat pendidikan lebih baik, dimulai dari sendiri dulu”, karena pendidikan bukan hanya urusan pemerintah, tapi urusan kita semua.

“Kegagalan terbesar pendidikan bukan karena banyaknya masalah pendidikan yang terjadi, tetapi karena kita yang hanya diam melihat masalah-masalah itu terjadi di sekitar kita"

 Salam Pendidikan! ^^

(Makassar (malam hari), 28 April 2014) -Ina Novita-
 

Indah Cinta




Kata paling indah adalah cinta.

Kata yang mengandung perumpamaan.

Sering memberi pemahaman.

Dan mampu menciptakan kedamaian.

Yang mewakili sebuah impian.

Dikemas dengan cara yang indah.

Lalu membentuk sebuah makna.

Yang tak harus dilihat oleh mata.

Tanpa melihat pun, kita bisa jatuh cinta.




(Makassar (dini hari), 28 April 201) -Ina Novita-